“Masih menyimpan naskah hasil Mubes, dari Mubes ke Mubes, Mas? Sudah Mubes keberapa sekarang?” Tanya saya ke Daffa, contact baru di whatsapp yang mengundang saya untuk jadi pemateri acara BEM ITS yang direncanakan Sabtu 15 November 2025 kemarin.
“Ada pak, saya kirimkan ya,” katanya.

Beberapa saat kemudian ada satu tautan dan dua dokumen pdf masuk ke hp saya.
Chat whatsapp dari BEM ITS tadi membuat saya feel amazed, bahwa idealisme senior-senior dulu menyelenggarakan Mubes ITS masih dilanjutkan dari generasi ke generasi hingga ke generasi hari ini melintas lebih tiga dekade.
Saya melanjutkan membaca dokumen-dokumen yang barusan saya terima tadi. Sudah lama kenangan akan Mubes itu tertepikan dengan beribu hal-hal yang lain dan sudah lama pula saya tak berbicara di forum tentang bahasan ini.
Tadaaaa, saya menemukan treasure di antara halaman-halaman dokumen tersebut!

Ya bener, treasure itu adalah menemukan nama saya di deretan referensi di sebuah halaman dokumen yang tadi saya terima dan lantas mencoba mengingat hal-hal apa saja yang saya tuliskan dulu di sana. Ingatan saya tak kembali sempurna. Beberapa klir seperti kristal. Beberapa yang lain tanggal seperti daun meranggas.
Dari ingatan-ingatan yang tak lagi lengkap itu, saya mencoba menuliskannya, siapa tahu kelak jadi manfaat.
Buat saya, Mubes terselenggara karena 2 hal: pertama, faktor beban sejarah yang menempatkan mahasiswa sebagai elemen kunci republik ini. Mengapa ada kata ‘maha’ di depan siswa? Coba cek kosa kata bahasa asing. Dalam bahasa Inggris ya ‘student’, tak berbeda dengan jenjang pendidikan menengah dan dasar ya sama-sama student. Di Indonesia, mahasiswa memang teruji sejarah menempati posisi khusus di peta politik keindonesiaan.
Sebut saja era 1965-1966, serta peristiwa Malari 1974 yang memantik kekhawatiran atas peran mahasiswa yang bisa menggulung tiran, Orba kemudian melahirkan konsep NKK/BKK di tahun 1978.
NKK adalah Normalisasi Kehidupan Kampus sedangkan BKK adalah Badan Koordinasi Kemahasiswaan yang menggantikan Dewan Mahasiswa yang dibubarkan. BKK terdiri Pembantu Rektor III, Pembantu Dekan III, serta dosen dan mahasiswa (!!) yang mengarahkan kegiatan mahasiswa berorientasi pada minat dan bakat serta akademis an sich. Kebijakan yang ditujukan menjauhkan mahasiswa dari gerakan politik mengkritisi rezim.
Di ITS, pasca NKK/BKK membuat tak ada kelembagaan organisasi mahasiswa di tingkat institut. SK 0457/1990 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan pun dianggap tak jauh beda dengan SK sebelumnya yang mengebiri hak-hak mahasiswa.
Perlunya kelembagaan di tingkat institut untuk menjadi payung aspirasi dan aktivitas mahasiswa layaknya student government yang mandiri tetapi tidak mau menggunakan konsep yang didikte rezim, maka lahirlah Panitia Persiapan Senat Mahasiswa ITS (PP SMITS) via Deklarasi ‘Manifestasi Langkah dan Gerak (Malaga), September 1993.
Setahun setelah Deklarasi Malaga, terselenggaralah Musyawarah Besar Mahasiswa ITS (Mubes ITS) yang pertama kali pada September 1994 di Batu. Dengan Mubes terselenggara, pernyataan perlawanan kepada rezim diproklamasikan: mahasiswa bisa mengurus dirinya sendiri!
Selain faktor beban sejarah yang merupakan hal pertama yang melandasi terselenggaranya Mubes, hal lain yang juga menjadikan Mubes ITS ada adalah wawasan integralistik ITS, sebuah cara pandang ITS sebagai kesatuan bukan yang terkotakkan arogansi antar jurusan.
Ada dua peristiwa besar di tahun 1994 yang kongruen dengan semangat Mubes yang sama-sama berjiwa kemandirian mahasiswa, yaitu pengelolaan Asrama Mahasiswa ITS oleh mahasiswa serta kembalinya Kopma Dr. Angka menjadi sebenar-benar koperasi mahasiswa yang pengurus dan anggotanya adalah mahasiswa ITS yang menjadikan kesejahteraan mahasiswa adalah tujuan.
Kopma Dr. Angka juga berhasil mengelola Kantin Pusat ITS dan menjadikannya ruang publik yang terbuka buat diakses siapa saja untuk berbagai aktivitas mahasiswa selama 24 jam 7 hari seminggu.
Asrama, Kopma, dan Kantin Pusat, ketiganya adalah bangunan-bangunan bersejarah yang menyokong gerakan mahasiswa khususnya pematangan pribadi-pribadi yang mandiri, egaliter tapi tak tunduk pada rezim.
Di tahun 1994 ketiga bangunan tersebut dimiliki oleh mahasiswa dan siapa sangka benih itu dipanen di tahun 1998. Mereka yang dibesarkan asrama, kopma dan kantin, hampir dipastikan berada pada sikap yang sama di masa reformasi 1998.
Kini, bangunan ketiganya masih ada. Lebih elok dipandang malah. Tapi sayang jiwanya tak lagi sama. Sayang.
Secara kelembagaan, Mubes I ITS melahirkan Senat Mahasiswa ITS (SMITS) dan Badan Pelaksana Senat Mahasiswa ITS (BPSMITS). Peserta Mubes diikuti oleh lembaga yang sudah terlebih dahulu ada: Senat Mahasiswa Fakultas, Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Unit Kegiatan.
SMITS sendiri terdiri dari 24 senator. Angka 24 ini didapat dari 4 kali 6 (4 fakultas + 2 politeknik).
Senator-senator dipilih melalui mekanisme pemilihan langsung oleh mahasiswa. Senator terpilih kemudian memilih 1 orang ketua di antara mereka, serta memilih Ketua BPSMITS.
Berikut adalah Ketua SMITS dan Ketua BPSMITS sejak Mubes I hingga penyelenggaraan Mubes II:
1994-1995
Ketua SMITS: Ferry Dzulkifli (Matematika)
Ketua BPSMITS: Widyo Rulyantoko (Teknik Kimia)
1995-1996
Ketua SMITS: Agus M Maksum (Fisika)
Ketua BPSMITS: Parento Bina (Teknik Kimia)
1996-1997
Ketua SMITS: Herwan Febriyadi (Fisika)
Ketua BPSMITS: Iman Sulaiman (Fisika)
1997-1998
Ketua SMITS: Jafar Amiruddin (Teknik Kimia)
Ketua BPSMITS: Hari Irawan (Teknik Sistem Perkapalan)
Mubes II ITS direncanakan pada bulan September-Oktober 1998 sesuai dengan amanat Mubes I yaitu tiap empat tahun. Empat tahun cukup untuk mengevaluasi pelaksanaan hasil-hasil Mubes dan kembali mempertajam organisasi kemahasiswaan (ormawa).
Kebetulan pada masa itu adalah puncak masa reformasi yang menjadi titik utama perhatian organisasi mahasiswa. Evaluasi yang utama adalah kecepatan pengambilan keputusan ormawa yang keteteran menghadapi dinamika politik nasional.
BPSMITS tidak bisa bermanuver tanpa persetujuan SMITS. Sedangkan SMITS perlu mekanisme kolektif-kolegial yang perlu waktu untuk memutuskan hal-hal yang kadang dianggap sepele.
Di sisi yang lain, student goverment adalah idealita sekaligus miniatur dari negara yang diidealkan. Demokratisasi di Indonesia yang menuntut pemberian akses kepada tiap rakyatnya untuk memilih pemimpinnya secara langsung juga harus diminiaturkan. Oleh karenanya BPSMITS perlu dipilih langsung oleh mahasiswa tak lagi oleh para senator SMITS.
Pemilihan istilah Presiden instead Ketua adalah sebuah cara untuk ‘mocking’ rezim bahwa presiden adalah orang biasa dan bukan orang yang tak bisa disentuh layaknya presiden di masa rezim orde baru.
Penggunaan nama ‘Badan Eksekutif’ menggantikan ‘Badan Pelaksana’ adalah sebuah cara menunjukkan perubahan zaman serta penyelarasan dengan kampus-kampus lain sebagai bagian tak terpisahkan dari Gerakan Mahasiswa Indonesia.
Selain melahirkan BEM ITS dengan Presiden Mahasiswa yang dipilih langsung berbareng dengan pemilihan senator SMITS, Mubes II ITS yang diselenggarakan di Taman Candra Wilwatikta, Pandaan, juga memutuskan penguatan forum komunikasi antar Unit Kegiatan Mahasiswa (Forkom UK) menjadi Lembaga Minat dan Bakat (LMB).
Sedangkan Senat Mahasiswa Fakultas bersifat fakultatif dengan pengakuan keberadaan Himpunan Mahasiswa Jurusan sebagai organisasi dasar yang utama sekaligus memperkuat keprofesian mahasiswa. Dengan demikian diharapkan pembagian lahan garap antar organisasi kemahasiswaan lebih bisa dimaksimalkan.
Menutup catatan ini, benar adanya bahwa tiap generasi punya masa. Apa yang terjadi di masa lalu, adalah pembelajaran bagi generasi hari ini untuk mempersiapkan generasi kemudian. Hari ini mahasiswa tetap menyandang beban sejarah dengan melekatnya kata ‘maha’ di depan ‘siswa’.
Upaya penajaman pun juga revitalisasi ormawa yang berhadapan dengan perubahan zaman bisa saja dilakukan. Mubes ITS adalah tempat yang tepat melakukan itu semua. Mau diapakan kemudian ormawa sepenuhnya adalah hak mahasiswa bukan kami-kami yang telah jadi alumni. Masa kami telah lewat kini masa kalian. Meski tentu saja kami berharap banyak pada kalian. Saat kami menua dan tak lagi bisa apa-apa, kalianlah pemegang estafet nasib republik ini.
Selamat ber-Mubes keenam!
[kkpp, 23.11.2025]
Note: tulisan ini dibuat untuk memenuhi undangan sharing session tentang mubes ITS yang diselenggarakan BEM ITS pada 15 November 2025 di Kampus ITS Manyar.

Tinggalkan komentar