Antara SPBU, F1, dan korupsi kecil-kecilan

Bayangkanlah sebuah pertandingan tanpa kompetisi. Bagi saya, hal itu berarti tak akan ada lagi menariknya menjadi penonton. Kita hanya akan melihat Fernando Alonso melaju sendirian di lintasan balap. Sangat membosankan. Hanya ada dua kemungkinan. Kita hanya akan menanti Alonso mencapai finish (line), naik podium sendiri, dan menikmati sampanye-nya sendiri. Atau, Alonso akan berbuat salah-salah sendiri.

Lanjutkan membaca “Antara SPBU, F1, dan korupsi kecil-kecilan”

Bridge Pra PON XVII di Mataram

Beberapa hari ini, sejumlah kawan di klub AIC Bridge Club -yang kali ini mewakili provinsi- tengah berada di Mataram untuk memperebutkan tiket berlomba di Pesta Olahraga Nasional yang rencananya akan diselenggarakan di Kalimantan Timur.

Dari berita GABSI sudah ada 30 provinsi yang mendaftar untuk open team putra dan 12 provinsi untuk team putri. Team putra akan dibagi dalam 2 pool. Peringkat 1-4 masing-masing pool otomatis lolos dan satu tempat tersisa akan diperebutkan oleh peringkat 5. Di team putri, peringkat 1-4 juga otomatis lolos, sedangkan play-off akan diperebutkan oleh peringkat 5 dan 6. Dengan menambahkan jatah tim tuan rumah, maka lengkap sudah 10 tim putra dan 6 tim putri.

Meski liputan media nasional tak banyak berpihak pada cabang olahraga ini, untunglah perkembangan teknologi memungkinkan kita mengikuti apa yang terjadi di Mataram. Bahkan apa yang terjadi dari papan ke papan selanjutnya dengan ditonton oleh pemain-pemain bridge di seluruh dunia, dengan komentator pemain kelas dunia. Tak lain dan tak bukan, please, say thanks to Bridge Base Online. Ya, dengan fasilitas BBO, pertandingan Pra PON VII ditayangkan di Vugraph secara langsung …

Atau bila tidak bisa akses internet, cukuplah menggunakan teknologi sms. Sebagaimana barusan, sms seorang kawan sore ini (20/7/2007; 17.43) mengabarkan bahwa hingga sesi 7, Jatim putra rangking 1 dengan mengumpulkan 144 VP dan Jatim Putri di rangking 4 dengan 119 VP.

Selamat berjuang, kawan!

[kkpp, 20.07.2007]

Updated:
26 Juli 2007: Sms seorang kawan menyatakan tim Jawa Timur gagal total. Tak kan lagi ada kontingen Jawa Timur di PON XVII. Duh sedihnya, padahal capaian di PON XVI adalah 1 perunggu dari beregu putri. Tak tahu bagaimana tanggapan pecinta bridge atas hasil ini …

Bangkit timnas Indonesia! Bangkit negeriku!

Berakhir sudah euforia berjuta penikmat dan pecinta bola di tanah air seiring kalahnya timnas Indonesia dari Korea 1-0 di fase group Piala Asia 2007. Satu gol balasan tak kunjung datang, meski pertandingan di sebelah menghasilkan kemenangan untuk Saudi Arabia. Andai gol yang ditunggu itu datang -entah dari Ellie Aiboy, atau Firman Utina, atau Bambang Pamungkas, atau dari pemain lainnya- sejarah bakal tercipta dan euforia tetap berlanjut.

Euforia itu berkembang sedemikian setelah kemenangan atas Bahrain, kalah dari Saudi Arabia di menit-menit injury time. Perjuangan tiap pemain, kolektivitas tim dan yang terpenting adalah kesatuan dan semangat berjuta penonton baik yang nonton langsung di Gelora Bung Karno, pun nonton dari layar televisi, juga mencermati online via internet memupuk euforia itu. Kenangan atas prestasi timnas rasanya belum pernah seperti sekarang sebagaimana jaman timnas diasuh Sinyo Aliandoe dan Bertje Matulapelwa.

Namun kini, seiring kekalahan itu, tibalah saatnya untuk terbangun. Bahwa tidak ada jalan pintas bagi sebuah keberhasilan. Tidak ada timnas sepakbola yang bisa berhasil dari liga yang acakadul, liga tanpa pembinaan pemain dengan benar, penegakan hukum yang tak jelas, serta managemen asosiasi (baca: pssi) yang semrawut.

Tak apa. Setidaknya timnas Indonesia untuk Piala Asia 2007 telah menyisakan harapan: bagaimana bisa semangat satu Indonesia -ditengah kecenderungan kepentingan antarklub yang sering gontok-gontokan- bisa dibawa ke semangat keindonesiaan kini. Bagaimana semangat itu bisa menyatukan negeri, bisa menyanyikan Lagu Indonesia Raya secara bergemuruh yang mendirikan bulu roma.

Bangkit Indonesia! Bangkit negeriku! Katakan pada negara asing: Ini kandang kita!

[kkpp, 18.07.2007]

In Memoriam: Ir. I Wayan Lingga Indaya, MT

Jumat itu tertanggal 13 Juli 2007. Friday  the thirteenth, kata orang-orang.

Pagi itu maksud hati hendak posting ke milis marine engineering its, sebuah doa untuk dosen wali saya dulu yang sejak Rabu kemarin (11/7) masuk RSUD Dr Sutomo karena sakit jantung. E-mail berisi doa belum sempat terkirim, malah ternyata yang saya dapati adalah berita duka bahwa beliau telah berpulang.

Ya sesungguhnya yang berasal dariNya akan kembali kepadaNya.

Saya sempat menitikkan airmata. Bagaimanapun, beliaulah salah satu yang mendorong saya untuk menyelesaikan studi S1 beberapa tahun yang lalu.

Lanjutkan membaca “In Memoriam: Ir. I Wayan Lingga Indaya, MT”
%d blogger menyukai ini: