Indonesiana, Islam, Marketing

Siang Dipendam Malam Balas Dendam

amild1“Siang dipendam malam balas dendam”. Demikian tag line yang saya baca kemarin di sebuah media iklan yang membentang sebelum jalan layang mayangkara yang melintasi pelintasan kereta api di Wonokromo, Surabaya. Iklan ini sungguh menarik. Tulisan berada di atas, sedangkan di bawahnya tergambar sejumlah mangkok, piring, gelas yang terbuat dari kaca tampak kosong. Tapi itu dapat ditemui saat saya melintasinya di siang hari. Waktu malam harinya saya kembali melewati media iklan tersebut, tampak berbagai mangkok dan piring tersebut penuh dengan berbagai makanan yang menggiurkan.

Soal kreativitas sang pembuat iklan juga dibahas di sini.

Kita lantas mengasosiasikan tagline itu dengan suasana puasa ramadhan 1428 H ini. Tagline itu menyindir kita yang tengah berpuasa di siang hari tapi sering malah berpesta pora di malam harinya, dengan alasan balas dendam. Mudah-mudahan sih, mereka yang tersindir kemudian malah menemukan jalan hakekat puasa dan bukan malah menyerang dan merusak perusahaan iklan yang terkait. Keriuh-rendahan akan keberadaan iklan tersebut bisa juga ditemui di sini.

Sejujurnya, iklan-iklan dari perusahaan yang terkait dengan iklan itu selalu menarik. Iklan dari rokok yang mengusung bendera “bukan basa-basi” dan “tanya kenapa” ini sejak dahulu tampil konsisten dengan tagline yang tajam menyindir dan mudah diasosiasikan oleh pembaca iklannya. Entah berapa persentase pembaca iklan yang terpengaruh oleh iklan ini dan berapa pula yang terkonversi menjadi pembeli bahkan menjadi customer loyal seperti halnya saya.

Sependek ingatan saya, iklan ini diasosiasikan dengan Sampoerna A Mild, salah satu varian produk dari HM Sampoerna Tbk, perusahaan rokok dari Surabaya yang kini telah dimiliki oleh Philip Morris International. Awal saya merokok rokok ini harganya masih di bawah seribu rupiah dan kini telah berlipat lebih dari sepuluh kalinya. Cukainya pun senilai 40 persen. Tinggal hitung saja berapa rupiah yang sudah disisihkan ke negara. Sementara di kios rokok yang ada di Orchard Road Singapore, sekotak dijual seharga hampir 12 SGD. Enam-tujuh kali lipat dibandingkan harga di negara asalnya.

Bagi perusahaan rokok yang kian lama kian dimusuhi oleh publik, penampilan iklan semacam yang ditampilkan Sampoerna A Mild ini secara konsisten sejak bertahun-tahun yang lalu dan hingga sekarang saat berganti kepemilikan pun, akan tampil menyegarkan dan cerdas.

Bayangkan, di masa depan manakala iklan rokok tidak boleh tampil di publik lagi, orang akan senantiasa ingat akan iklan itu. Orang akan senantiasa ingat bahwa masih ada segelintir orang cerdas dan kreatif yang senantiasa mengingatkan rakyat negerinya bahwa kita sering berperilaku keliru. Berbeda dengan produk rokok lain, yang lebih menonjolkan keperkasaan, kegantengan, bahkan sebagai gaya hidup.

***

“Siang dipendam malam balas dendam”. Sindiran tagline ini sebenarnya tidak saja bagi pelaku puasa yang belum menemukan jalan hakekat puasa. Sindiran ini juga berlaku bagi masyarakat kita yang banyak berperilaku dua topeng. Saat bertemu muka berbaik muka. Saat tak ada di muka, kita lebih suka mengomel di belakang, bahkan mengambil jalan hitam yang culas, jahat dan penuh aroma balas dendam.

Semoga puasa kita yang sepenuh hati akan mengantarkan kita menjadi manusia yang bermanfaat dan bermartabat. Amin.

[kkpp, 21.09.07]

Standar
Liverpool, Sepakbola

UCL Group Phase 2007: Gol Ketiga dari Penalti

Partai perdana The Reds di UEFA Champions League musim 2007/08 adalah melawat ke kandang FC Porto. Laga yang digelar di Dragon Stadium ini cukup menantang, mengingat jawara UCL musim 2003/2004 ini mempunyai rekor yang baik untuk partai kandang melawan tim-tim Inggris. Sembilan kali pertandingan tanpa kalah.

Ternyata rekor belum tumbang. Liverpool yang tampil dengan sepuluh orang sejak menit ke-57 akibat Pennant mendapat dua kartu kuning hanya mampu mempertahankan skor imbang 1-1 yang diperoleh babak pertama. Penalti Luncho Gonzalez dibalas dengan heading Dirk Kuyt. Selintas gol ini mirip gol Kuyt pada malam final UCL 2006/2007 di Athena.

Baca lebih lanjut

Standar
Kisah Kehidupan, Puisi

Empat September Duaribu Tujuh

Tiga tahun yang lalu,

hening sesaat setelah subuh

tangismu yang pertama memecah semburat jingga

Takkan pernah terlupa

bagaimana beribu rasa tak tergambarkan oleh tubuh

tatapmu yang pertama bertaut memenuhi rongga jiwa

Tak terasa

kini engkau telah belajar menapak jalan kehidupan

kini engkau telah belajar menyapa sesama

langkah-langkah kecilmu telah menuntunku untuk lebih bijak memahami kehidupan

sapamu telah mengingatkanku bagaimana waktuku tak cukup untuk menyapa dahaga masa depan yang terbentang

Masa depan adalah milikmu, gadis kecilku

Biarlah masa sekarang milik generasi sekarang yang sering terlupa bahwa masa mendatang adalah kepastian

Genggam masa depanmu, gadis kecilku

Dan jika masa itu telah tiba,

jangan pernah menoleh ke belakang untuk menangisi hal-hal buruk yang seharusnya ditinggalkan generasi sekarang yang takmampu meninggalkan keculasan, dengki, dan perasaan serba instan dalam menggapai keinginan

Gadis kecilku,

kami percaya bahwa masa depan itu terbentang, :untukmu dan generasimu:

sapa dan ingatkan kami bahwa masa depan itu adalah milik kalian

kami hanyalah busur

yang hanya bisa mengantarkan kalian, :dengan doa dan harap:

(♣. surabaya, awal september 2007, untuk aurora nuha sadida)

Standar
Liverpool, Sepakbola

Versus Derby: Kemenangan Terbesar

Partai yang digelar di gameweek ke-5, awal September ini memberikan catatan yang manis bagi Liverpool. Enam gol yang dilesakkan Alonso, Babel, Torres dan Voronin membawa kemenangan terbesar di Premier League sejak kemenangan 6-0 atas West Brom Albion di bulan April 2003. Saat itu enam gol Liverpool diborong oleh Owen (4) dan Milan Baros (2).

Sejak ditangani Rafa, situs resmi Liverpool  mencatat kemenangan terbesar 7-0 diraih pada saat piala FA melawan Birmingham City, Maret 2006. Kemenangan terbesar di liga adalah 5-0 saat melawan West Brom Albion pada Desember 2004, dan 5-1 pada saat partai kandang melawan Fulham pada Maret 2006.

Dengan kemenangan ini, maka hitungan pencetak gol berubah menjadi:

  • Torres, 3 gol. Dua gol dari pertandingan ini dan 1 gol ke gawang Petr Chech
  • Voronin, 3 gol. Dua gol di ajang liga dan 1 gol di ajang Champions
  • Kuyt, 2 gol. Dua-duanya dari pertandingan lawan Toulouse
  • Alonso, 2 gol. Dua gol dari partai ini
  • Crouch, 1 gol dari pertandingan lawan Toulouse
  • Hyypia, 1 gol
  • Gerrard, 1 gol yang mendapatkan penghargaan dari fans sebagai gol terbaik bulan Agustus
  • Sissoko, 1 gol
  • Babel, 1 gol. Gol pertama yang dinanti telah lahir.

Kiranya, semua striker sudah mulai mencatat torehannya. Dus, hitungan masih akan terus bertambah …

[♣.3.9.07]

Standar
Indonesiana

Ganyang Malaysia

Malaysia memang perlu diganyang, tapi bukan dengan kon­fron­tasi fisik. Juga bukan dengan ancaman ala Bung Karno. Kita mengganyang Malaysia secara positif dengan cara mem­ba­ngun bangsa ini. Badan dan jiwa bangsa harus dibangun agar yang terlihat besar bukan hanya luas wilayah dan jumlah pen­duduk. Indonesia juga harus besar dalam kualitas dan itu ha­rus tercermin pada diri manusia Indonesia yang sejahtera, se­hat badan dan jiwa. Sudah saatnya, negeri dan bangsa ini dibangun dengan benar agar tidak ada lagi penduduk yang miskin dan yang menganggur. De­ngan potensi alam yang sangat besar, jauh melebihi Malaysia, mes­tinya negeri ini tidak kesulitan lapangan pekerjaan.” 

Baca lebih lanjut
Standar
Bisnis, Marketing

Marketing Inovasi Gaya Joger

Siapa sih yang tidak kenal Joger? Saya sendiri pertama kali ke Pabrik Kata-kata tersebut pada tahun 1995, pada saat menjadi panitia lokal Kejuaraan Dunia Bridge Junior yang saat itu diselenggarakan di Kuta Bali. Hingga kunjungan terakhir saya dua tahun yang lalu, Pabrik Kata-kata Joger tetap membekas dalam kenangan akan antrian yang sedemikian padat namun segera terhapus sesaat membaca rangkaian kata yang menusuk, getir, membikin tawa (kadang tertawa lepas, kadang tertawa karena tersindir), dan juga rangkaian kata yang unik.

Baca lebih lanjut
Standar
Bisnis, Liverpool, Sepakbola

Kini Era TV Berbayar?

Masih ingatkah era tahun 80an, saat masyarakat diwajibkan membayar iuran televisi? Bahkan waktu itu ada sweeping segala ke tiap rumah? Saya lupa-lupa ingat. Maklum masih pakai seragam putih merah. Yang pasti sih, televisi di rumah masih hitam putih. Namun dari televisi itulah saya pertama kali jatuh cinta dengan sepakbola Liverpool saat menyaksikan final Piala Champions 1985, yang mempertemukan Liverpool dan Juventus, serta menorehkan tragedi yang tak kan terlupa. Tragedi Heysel.

Baca lebih lanjut
Standar