Jalan Masih Panjang

Bagi Liverpuldian dimana saja, hasil pertandingan melawan Tottenham Hotspurs di Anfield minggu (7/10/07) malam waktu Indonesia menyisakan sedikit pahit. Pahit sisa kekalahan atas Marseille di tempat yang sama Kamis dini hari kemarin masih tersisa. Di tambah karena inilah partai ketiga di musim ini di kandang, dimana sang tamu bisa pulang membawa satu poin. Chelsea (1-1), Birmingham (0-0), lantas Tottenham (2-2).

Gol Andry Voronin di awal 20 menit tak lantas membikin Liverpool tampil trengginas. Yang ada malah kecolongan di akhir babak pertama dan di awal babak kedua. Kedua gol yang sangat mirip. Dari kiper (Paul Robinson), tandukan Berbatov menundukkan Hyypia, lantas satu sentuhan Robbie Keane menaklukkan Reina. Untung saja Torres menyelamatkan Liverpool dari kekalahan di masa injury time.

Sebagian dari kami sedikit jengkel. Di forum, di milis, banyak yang mempertanyakan hasil partai ini. Namun saya berada di pihak yang bersebelahan. Sedikit kecewa tapi masih tetap optimis. Saya sedikit banyak berdiri pada posisi Jamie Carragher seperti dilansir situs resmi Liverpool kemarin (9/10/07) ini:

“It’s a long season and there’s still a long way to go. Don’t forget, we’re still unbeaten in the league as well. We just have to make sure we win at Goodison in a couple of weeks.”

Ya, Liverpool masih memainkan 8 games BPL. Masih ada 30 partai lagi. Selama Liverpool mampu mempertahankan rekor tidak terkalahkan, masih ada kans kita berbahagia di akhir musim.

***

Update catatan gol setelah pertandingan ini adalah sebagai berikut:

  • Torres, 7 gol; 4 gol di BPL dan 3 gol di Carling Cup
  • Voronin, 4 gol; 3 gol di BPL dan 1 gol di ajang Champions
  • Kuyt, 3 gol. Satu dari Porto dan dua dari pertandingan lawan Toulouse
  • Alonso, 2 gol. Dua gol dari partai melawan Derby County
  • Benayoun, 2 gol. Satu saat melawan Reading dan 1 gol penyelamat saat melawan Wigan
  • Crouch, 1 gol dari pertandingan lawan Toulouse
  • Hyypia, 1 gol
  • Gerrard, 1 gol
  • Sissoko, 1 gol
  • Babel, 1 gol.

Sementara Reina kebobolan 6 kali (3 gol dari penalti) dan Itandje kebobolan 2 gol.

[kkpp.10.10.07]

Sahur di Kala Kekalahan Pertama

Sahur di hari ke-22, bulan Ramadhan 1428 ini terasa pahit. Bukan karena tidak ada lauk, bukan pula karena kehabisan stok gula. Semata karena kekalahan pertama Liverpool di ajang resmi musim 2007/2008. Gol Valbuena di menit 76 di pojok kiri gawang Reina seolah membangkitkan Liverpool yang sejak menit pertama seperti terlena. Namun sisa waktu tak cukup. Bahkan untuk sekedar menyamakan kedudukan. Walhasil, kekalahan 0-1 di Anfield harus diterima sebagai sebuah kenyataan.

Tampil dengan pasangan Crouch-Torres di depan, supply umpan dari sayap yang diperankan Benayoun dan Leto tidak banyak menghasilkan keakuratan. Sementara di tengah pun, Sissoko yang mendampingi SG8 tampil di bawah performanya. Begitu halnya ketika Riise, Voronin, dan Kuyt yang tampil sebagai pengganti, tak bisa mengkonversi peluang menjadi gol yang dinanti.

Sementara Marseille tampil dengan lima gelandang dan hanya menyisakan Niang di depan sebagai striker. Dua alumni Liverpool, Djibril Cisse dan Zenden tampil di pertandingan ini. Tampil pula Benoit Cheyrou yang merupakan adik dari alumni Liverpool lainnya, Bruno Cheyrou.

Seperti pertandingan-pertandingan terakhir, entah karena faktor rotasi yang mengakibatkan tidak ada pemain yang sama persis yang dimainkan dari satu pertandingan ke pertandingan yang lain, pemain Liverpool terlihat canggung dalam memberikan umpan dan men-support pergerakan pemain lainnya. Malah, mereka terlihat gugup ketika menghadapi serangan balik tim dari Prancis itu. Kartu kuning yang lebih banyak, penguasaan bola yang kalah, shot on goal yang kalah, telah menunjukkan bahwa tim harus berbenah.

Kehilangan 4 poin dari 18 poin yang mungkin, sangat terasa bagi tim yang bermain di fase group yang hanya menyisakan juara dan runner up group untuk lolos ke babak berikutnya. Namun peluang masih ada. Tinggal bagaimana Rafa mencari formulasi yang lebih greng. Entah kembali ke pakem: “Don’t change the winning team” atau tetap percaya kepada rotasi ala rafalution.

Yang jelas kemenangan tetaplah akan terasa manis, seperti halnya yang direguk oleh ketiga tim Inggris yang bermain di UCL. Arsenal menang 1-0 saat tandang. Pun juga dengan Chelsea dan Man U yang bermain kandang. Sementara kekalahan tetaplah pahit sebagaimana dirasakan juara tahun lalu, Milan di kandang Celtics.

***

Dari hasil pertandingan ini maka untuk pertama kali pula Reina dibobol melalui gol yang dihasilkan open play (bola hidup). Dan catatan torehan gol pun tidak berubah seperti ini:

  • Torres, 6 gol. Hattrick ke Reading (Carling Cup) dan dua gol dari Derby County dan 1 gol ke gawang Petr Chech
  • Voronin, 3 gol. Dua gol di ajang liga dan 1 gol di ajang Champions
  • Kuyt, 3 gol. Satu dari Porto dan dua dari pertandingan lawan Toulouse
  • Alonso, 2 gol. Dua gol dari partai melawan Derby County
  • Benayoun, 2 gol. Satu saat melawan Reading dan 1 gol penyelamat saat melawan Wigan
  • Crouch, 1 gol dari pertandingan lawan Toulouse
  • Hyypia, 1 gol
  • Gerrard, 1 gol
  • Sissoko, 1 gol
  • Babel, 1 gol.

Awal Mengenal Bridge

Pertama kali saya mengenal bridge dari sisipan BOLA (yang kemudian terbit sendiri dan menjelma sebagai top nasional tabloid olahraga) di koran KOMPAS. Waktu itu ada rubrikasi khusus tentang bridge dan catur di halaman dekat teka teki silang. Tertariknya, judul artikel yang seringkali ditulis oleh Ras Siregar (alm.) agak berbau Kho Ping Hoo. Misalnya, “Menyelamatkan Sang Ratu” atau “Berkelit dari Sergapan Harimau” dan sebangsanya. Bagi anak seumuran SD yang tengah menggandrungi Kho Ping Hoo, sebagaimana saya, artikel itu sangat mengundang selera. Lantas saat membacanya, justru kebingunganlah yang didapat. Logo \spadesuit, \heartsuit, \diamondsuit, \clubsuit, bertebaran di sepanjang artikel.

Saya penasaran. Lambangnya sih familiar dengan permainan kartu remi. Tapi apa maksud artikel-artikel ini? Permainan apa gerangan? Apa hubungan permainan ini dengan “berkelit dari sergapan harimau”?

Saya mencoba bertanya ke orang-orang yang saya anggap mengerti. Tapi bertahun-tahun saya tak mendapatkan jawabnya. Hingga kemudian, ketika itu saya sebagai mahasiswa baru mendatangi acara pendaftaran unit-unit kegiatan mahasiswa di Ruang Kaca, Kantin Pusat, Kampus ITS Sukolilo Surabaya pada tahun 1993. Alangkah takjubnya saya, saat menemukan stand UK Bridge di antara unit-unit olahraga yang popular seperti sepakbola, basket, tennis, dan juga berbagai aliran beladiri.

Dahaga keingintahuan akan bridge sejak masa kecil seolah menemukan iming-iming segelas jawabannya. Dan ternyata, sejak itulah keterikatan saya dengan bridge. Olahraga yang memainkan seperangkat kartu remi yang satu setnya terdiri dari 13 kartu spade (\spadesuit), 13 kartu hearts (\heartsuit), 13 kartu diamond (\diamondsuit), dan 13 kartu club (\clubsuit).

Apa sih Bridge itu? 

Ke-52 kartu itu dibagi rata ke empat pemain, yang sebut saja duduk di Utara, Timur, Selatan dan Barat. Pemain di Utara berpasangan dengan yang di Selatan, sedang pemain Timur berpasangan dengan pemain Barat. Maka dalam satu meja, akan bermain dua pasangan yang bertarung mencari kontrak terbaik. Bila pasangan yang satu memainkan kontrak, maka pasangan lainnya berusaha menggagalkan kontrak. Pemegang kontrak disebut sebagai declarer. Sedangkan pasangannya bertindak sebagai dummy. Sedangkan lawannya disebut sebagai defender.

Kartu satu set yang dibagi disebut dengan papan/board. Papan ini juga berfungsi sebagai tempat kartu sesuai pegangan masing-masing pemain Utara, Timur, Selatan, dan Barat. Dengan papan inilah distribusi kombinasi kartu dalam satu permainan akan tidak berubah bila dimainkan di lain meja.

Karenanya permainan di satu meja akan sama dengan meja lainnya dan kemudian dengan kartu yang sama tersebut akan diperbandingkan bagaimana hasilnya.

Salah satu contoh pegangan adalah sebagai berikut:

Utara

\spadesuit AKT9

\heartsuit J8543

\diamondsuit Q

\clubsuit AK5

Jika sepakbola bertujuan mencetak gol sebanyak-banyak dan berusaha untuk tidak kemasukan, maka bagi pemain bridge kemenangan adalah selisih nilai antara satu meja dengan meja lainnya pada papan yang sama. Bila pemain Utara di meja 1 bisa meraih poin 500, sedangkan pemain Utara di meja 2 meraih 420 poin, maka pemain Utara meja 1 lebih jago daripada meja 2 dengan selisih 80 poin mengingat mereka memainkan distribusi kartu yang sama persis. Ibaratnya, dengan masalah pacar yang sama, metode penanganannya bisa jadi berbeda dan menghasilkan hasil yang berbeda.

Umumnya dalam pertandingan Bridge, satu papan akan dimainkan dalam waktu 8-10 menit. Sedangkan pertandingan bridge biasanya dimainkan secara pasangan atau secara patkawan. Atau setidaknya cukup berkumpul empat orang untuk bermain dalam satu meja.

Bila kurang dari empat orang bagaimana? Apakah bisa bermain bridge? Mending maen bo-ceng-li atau main soliter aja…

(kkpp.03.10.07)

Siang Dipendam Malam Balas Dendam

amild1“Siang dipendam malam balas dendam”. Demikian tag line yang saya baca kemarin di sebuah media iklan yang membentang sebelum jalan layang mayangkara yang melintasi pelintasan kereta api di Wonokromo, Surabaya. Iklan ini sungguh menarik. Tulisan berada di atas, sedangkan di bawahnya tergambar sejumlah mangkok, piring, gelas yang terbuat dari kaca tampak kosong. Tapi itu dapat ditemui saat saya melintasinya di siang hari. Waktu malam harinya saya kembali melewati media iklan tersebut, tampak berbagai mangkok dan piring tersebut penuh dengan berbagai makanan yang menggiurkan.

Soal kreativitas sang pembuat iklan juga dibahas di sini.

Kita lantas mengasosiasikan tagline itu dengan suasana puasa ramadhan 1428 H ini. Tagline itu menyindir kita yang tengah berpuasa di siang hari tapi sering malah berpesta pora di malam harinya, dengan alasan balas dendam. Mudah-mudahan sih, mereka yang tersindir kemudian malah menemukan jalan hakekat puasa dan bukan malah menyerang dan merusak perusahaan iklan yang terkait. Keriuh-rendahan akan keberadaan iklan tersebut bisa juga ditemui di sini.

Sejujurnya, iklan-iklan dari perusahaan yang terkait dengan iklan itu selalu menarik. Iklan dari rokok yang mengusung bendera “bukan basa-basi” dan “tanya kenapa” ini sejak dahulu tampil konsisten dengan tagline yang tajam menyindir dan mudah diasosiasikan oleh pembaca iklannya. Entah berapa persentase pembaca iklan yang terpengaruh oleh iklan ini dan berapa pula yang terkonversi menjadi pembeli bahkan menjadi customer loyal seperti halnya saya.

Sependek ingatan saya, iklan ini diasosiasikan dengan Sampoerna A Mild, salah satu varian produk dari HM Sampoerna Tbk, perusahaan rokok dari Surabaya yang kini telah dimiliki oleh Philip Morris International. Awal saya merokok rokok ini harganya masih di bawah seribu rupiah dan kini telah berlipat lebih dari sepuluh kalinya. Cukainya pun senilai 40 persen. Tinggal hitung saja berapa rupiah yang sudah disisihkan ke negara. Sementara di kios rokok yang ada di Orchard Road Singapore, sekotak dijual seharga hampir 12 SGD. Enam-tujuh kali lipat dibandingkan harga di negara asalnya.

Bagi perusahaan rokok yang kian lama kian dimusuhi oleh publik, penampilan iklan semacam yang ditampilkan Sampoerna A Mild ini secara konsisten sejak bertahun-tahun yang lalu dan hingga sekarang saat berganti kepemilikan pun, akan tampil menyegarkan dan cerdas.

Bayangkan, di masa depan manakala iklan rokok tidak boleh tampil di publik lagi, orang akan senantiasa ingat akan iklan itu. Orang akan senantiasa ingat bahwa masih ada segelintir orang cerdas dan kreatif yang senantiasa mengingatkan rakyat negerinya bahwa kita sering berperilaku keliru. Berbeda dengan produk rokok lain, yang lebih menonjolkan keperkasaan, kegantengan, bahkan sebagai gaya hidup.

***

“Siang dipendam malam balas dendam”. Sindiran tagline ini sebenarnya tidak saja bagi pelaku puasa yang belum menemukan jalan hakekat puasa. Sindiran ini juga berlaku bagi masyarakat kita yang banyak berperilaku dua topeng. Saat bertemu muka berbaik muka. Saat tak ada di muka, kita lebih suka mengomel di belakang, bahkan mengambil jalan hitam yang culas, jahat dan penuh aroma balas dendam.

Semoga puasa kita yang sepenuh hati akan mengantarkan kita menjadi manusia yang bermanfaat dan bermartabat. Amin.

[kkpp, 21.09.07]

UCL Group Phase 2007: Gol Ketiga dari Penalti

Partai perdana The Reds di UEFA Champions League musim 2007/08 adalah melawat ke kandang FC Porto. Laga yang digelar di Dragon Stadium ini cukup menantang, mengingat jawara UCL musim 2003/2004 ini mempunyai rekor yang baik untuk partai kandang melawan tim-tim Inggris. Sembilan kali pertandingan tanpa kalah.

Ternyata rekor belum tumbang. Liverpool yang tampil dengan sepuluh orang sejak menit ke-57 akibat Pennant mendapat dua kartu kuning hanya mampu mempertahankan skor imbang 1-1 yang diperoleh babak pertama. Penalti Luncho Gonzalez dibalas dengan heading Dirk Kuyt. Selintas gol ini mirip gol Kuyt pada malam final UCL 2006/2007 di Athena.

Lanjutkan membaca “UCL Group Phase 2007: Gol Ketiga dari Penalti”

Empat September Duaribu Tujuh

Tiga tahun yang lalu,

hening sesaat setelah subuh

tangismu yang pertama memecah semburat jingga

Takkan pernah terlupa

bagaimana beribu rasa tak tergambarkan oleh tubuh

tatapmu yang pertama bertaut memenuhi rongga jiwa

Tak terasa

kini engkau telah belajar menapak jalan kehidupan

kini engkau telah belajar menyapa sesama

langkah-langkah kecilmu telah menuntunku untuk lebih bijak memahami kehidupan

sapamu telah mengingatkanku bagaimana waktuku tak cukup untuk menyapa dahaga masa depan yang terbentang

Masa depan adalah milikmu, gadis kecilku

Biarlah masa sekarang milik generasi sekarang yang sering terlupa bahwa masa mendatang adalah kepastian

Genggam masa depanmu, gadis kecilku

Dan jika masa itu telah tiba,

jangan pernah menoleh ke belakang untuk menangisi hal-hal buruk yang seharusnya ditinggalkan generasi sekarang yang takmampu meninggalkan keculasan, dengki, dan perasaan serba instan dalam menggapai keinginan

Gadis kecilku,

kami percaya bahwa masa depan itu terbentang, :untukmu dan generasimu:

sapa dan ingatkan kami bahwa masa depan itu adalah milik kalian

kami hanyalah busur

yang hanya bisa mengantarkan kalian, :dengan doa dan harap:

(♣. surabaya, awal september 2007, untuk aurora nuha sadida)

Versus Derby: Kemenangan Terbesar

Partai yang digelar di gameweek ke-5, awal September ini memberikan catatan yang manis bagi Liverpool. Enam gol yang dilesakkan Alonso, Babel, Torres dan Voronin membawa kemenangan terbesar di Premier League sejak kemenangan 6-0 atas West Brom Albion di bulan April 2003. Saat itu enam gol Liverpool diborong oleh Owen (4) dan Milan Baros (2).

Sejak ditangani Rafa, situs resmi Liverpool  mencatat kemenangan terbesar 7-0 diraih pada saat piala FA melawan Birmingham City, Maret 2006. Kemenangan terbesar di liga adalah 5-0 saat melawan West Brom Albion pada Desember 2004, dan 5-1 pada saat partai kandang melawan Fulham pada Maret 2006.

Dengan kemenangan ini, maka hitungan pencetak gol berubah menjadi:

  • Torres, 3 gol. Dua gol dari pertandingan ini dan 1 gol ke gawang Petr Chech
  • Voronin, 3 gol. Dua gol di ajang liga dan 1 gol di ajang Champions
  • Kuyt, 2 gol. Dua-duanya dari pertandingan lawan Toulouse
  • Alonso, 2 gol. Dua gol dari partai ini
  • Crouch, 1 gol dari pertandingan lawan Toulouse
  • Hyypia, 1 gol
  • Gerrard, 1 gol yang mendapatkan penghargaan dari fans sebagai gol terbaik bulan Agustus
  • Sissoko, 1 gol
  • Babel, 1 gol. Gol pertama yang dinanti telah lahir.

Kiranya, semua striker sudah mulai mencatat torehannya. Dus, hitungan masih akan terus bertambah …

[♣.3.9.07]

Ganyang Malaysia

Malaysia memang perlu diganyang, tapi bukan dengan kon­fron­tasi fisik. Juga bukan dengan ancaman ala Bung Karno. Kita mengganyang Malaysia secara positif dengan cara mem­ba­ngun bangsa ini. Badan dan jiwa bangsa harus dibangun agar yang terlihat besar bukan hanya luas wilayah dan jumlah pen­duduk. Indonesia juga harus besar dalam kualitas dan itu ha­rus tercermin pada diri manusia Indonesia yang sejahtera, se­hat badan dan jiwa. Sudah saatnya, negeri dan bangsa ini dibangun dengan benar agar tidak ada lagi penduduk yang miskin dan yang menganggur. De­ngan potensi alam yang sangat besar, jauh melebihi Malaysia, mes­tinya negeri ini tidak kesulitan lapangan pekerjaan.” 

Lanjutkan membaca “Ganyang Malaysia”

Mari Berhitung Perburuan Gol Musim 2007/2008

Hingga tadi dini hari (29/08) seusai pertandingan kualifikasi Piala Champions leg kedua, Liverpool telah lima kali bertanding di ajang resmi. Tiga kali di Premier League, dan dua kali tandang dan kandang saat bertemu Toulouse di kualifikasi Champions. Hasilnya empat kali menang dan sekali seri.

Lanjutkan membaca “Mari Berhitung Perburuan Gol Musim 2007/2008”

Marketing Inovasi Gaya Joger

Siapa sih yang tidak kenal Joger? Saya sendiri pertama kali ke Pabrik Kata-kata tersebut pada tahun 1995, pada saat menjadi panitia lokal Kejuaraan Dunia Bridge Junior yang saat itu diselenggarakan di Kuta Bali. Hingga kunjungan terakhir saya dua tahun yang lalu, Pabrik Kata-kata Joger tetap membekas dalam kenangan akan antrian yang sedemikian padat namun segera terhapus sesaat membaca rangkaian kata yang menusuk, getir, membikin tawa (kadang tertawa lepas, kadang tertawa karena tersindir), dan juga rangkaian kata yang unik.

Lanjutkan membaca “Marketing Inovasi Gaya Joger”
%d blogger menyukai ini: