Tutup

Lokasi Bermain Bridge

Di Indonesia, meski bridge termasuk salah satu olahraga berkelas dunia selain bulutangkis dan tinju, mencari tempat untuk berlatih adalah salah satu problem tersendiri. Kita mungkin sering melihat orang bermain catur di pinggir jalan, namun tak bakalan kita melihat orang bermain bridge di pinggir jalan. Bisa-bisa malah kita menjadi bahan tangkapan polisi yang kurang kerjaan menangkapi orang bermain kartu dengan tuduhan berjudi yang sungguh tak berdasar.

Kendala lainnya adalah bila catur cukup dimainkan berdua, sementara bridge harus dimainkan sekurangnya berempat. Bila ingin mendapatkan kualitas permainan, sekurangnya kita harus main berdelapan. Jadi, jauh lebih mudah untuk bermain catur, cukup punya satu kenalan, sudah bisa membuka papan. Sementara untuk bridge, agar bisa bermain Anda harus punya komunitas, tidak cukup dengan hanya seorang kenalan saja. Apalagi orang yang bisa bermain catur jauh lebih banyak daripada yang bisa bermain bridge. Karena itu, di sisi yang lain, bermain bridge memaksa kita untuk bisa berkomunitas.

Dengan kendala-kendala seperti itu, tak salah bila banyak kawan pemain bridge yang kemudian jatuh cinta untuk bermain bridge secara online di www.bridgebaseonline.com atau yang lebih dikenal dengan BBO. Selama kita punya koneksi ke internet, kapanpun dan dimanapun kita bisa bermain bridge. Tak usah khawatir dengan kekurangan kawan, malah kita bisa mendapatkan kawan baru di sana. Pun kita bisa berkomunikasi karena dilengkapi fasilitas chatting.

Namun meski demikian, bagi sejumlah pemain bridge, kenikmatan bermain online belum bisa menggantikan bermain bridge secara biasa. Karena itu mereka sering mencari dimana lokasi bermain bridge.

Di Surabaya, lokasi bermain bridge yang legendaris adalah bertempat di Balai Sahabat Surabaya di jalan Genteng Kali sebelum Siola. Biasanya main saban Selasa tiap 19.30 s.d 23.00 wib. Atau kalau mau, silahkan bergabung di latihan rutinnya Perkumpulan Bridge (PB) Angka Bridge Family (dulu dikenal PB ITS). Biasanya latihan digelar tiap Jumat malam, lepas maghrib hingga selesai (hehe, kadang bila lagi semangat bisa selesai dini hari) di kantin pusat kampus ITS. Bila tidak ada halangan, saya selalu ada di sana bersama kawan-kawan UKM Bridge ITS.

Di Makassar, seorang pemain yang bertemu di suatu ajang menginformasikan bahwa mereka biasa bermain di Gedung Mulo, jl. S. Saddang (perempatan Jl. Sudirman) tiap Sabtu/Minggu jam 14.00 waktu setempat.

Anda punya informasi lainnya? Monggo ditambahkan …

[kkpp, 19/12/07]

Liga Patkawan GBS 2007-2008 seri I: Intan Digdaya

Meski sempat diwarnai ketidakpastian, akhirnya Liga Patkawan GBS (Gabungan Bridge Surabaya) periode 2007-2008 seri I yang diselenggarakan 1-2 Desember 2007 di Mall BG Junction (ex Wijaya) menempatkan team Intan II sebagai juara. Bermaterikan pemain-pemain senior Surabaya, termasuk diantaranya tokoh bridge Jawa Timur, Pur Byantara, Intan II kokoh di puncak menyisihkan 10 team lainnya dengan 222 VP dari 11 ronde.

Dari 11 ronde round robin dengan satu kali ronde bye karena hanya 11 team yang bertanding dari seharusnya 12 team, Intan II mencatat 9 kali kemenangan dan kekalahan hanya dialami di ronde pertama saat bertemu team satu klub, Intan I, 10-20 VP. Setelah ronde itu, Intan II terus mencatat kemenangan, dengan empat diantaranya mendapatkan angka sempurna, 25 VP.

Sedangkan di peringkat kedua dan ketiga adalah Perbankan B (211 VP) dan Perbankan A (198 VP). Menyusul PAL (182), Intan I (159), Universitas Widya Mandala (158), ITS (151), Unair (149), Telkom (143), Ubaya (127) dan Puslatcab (85).

Bagi team Perkumpulan Bridge (PB) ITS, yang menurunkan pasangan Kurnia/Badrus Syamsi, Nur Khasanah/Noviana Tri, dan pasangan baru Musthofa Fahmi/Firman sebagai juara turnamen internal PB ITS, mengawali turnamen dengan bertemu team PAL dan mengalami kekalahan 8-22 VP. Kekalahan juga dialami dari Perbankan B secara telak, 0-25 VP. Serta kekalahan ketiga dari Sang Juara, Intan II, 14-16 VP. Sejumlah partai berlangsung draw, 15-15 VP yaitu saat melawan Unair, Puslatcab dan Telkom. Sedangkan lainnya mencatat kemenangan tipis saat melawan UWM (17-13), Perbankan A (17-13) dan Ubaya (19-11). Sedangkan saat melawan Intan I, terjadi kekacauan karena hasil dari dua meja yang bertanding di open room dan close room, tidak dapat dibandingkan karena masing-masing team sama-sama duduk di arah yang sama. Walhasil, kedua team harus puas dengan score 14-14 VP.

Menurut edaran dari GBS, turnamen ini dimaksudkan untuk menambah ruang bagi klub sebagai basis pembinaan atlet untuk mengembangkan diri serta untuk memupuk partnership. Muaranya tentu saja adalah untuk eksistensi bridge Surabaya dan Jawa Timur di pentas bridge nasional, mengingat sepanjang tahun 2007 ini, baik tim GBS maupun Jawa Timur gagal di ajang Kejurnas Antar Kota dan seleksi untuk mengikuti PON 2008.

Sebagai bagian dari rencana GBS tersebut, Liga Patkawan ini diselenggarakan secara berselang dengan Liga Pasangan yang juga telah diselenggarakan terdahulu pada tanggal 27-28 Oktober 2007 di tempat yang sama. Seharusnya GBS mensyaratkan pasangan yang tetap sepanjang musim, namun untuk penyelenggaraan Liga Patkawan Seri I ini masih ada toleransi bagi team/klub yang belum memiliki pasangan tetap.

Sementara itu, Liga Pasangan seri I menempatkan pasangan Raf. Radiant/Hari Yulianto (ITS) sebagai juara disusul Soni/Yusron (PAL) dan M. Iqbal/Sentot (Telkom) sebagai runner up dan juara ketiga.

[kkpp, 03.12.07]

Petisi Dukung Rafa

Entah mengapa tiba-tiba ada perselisihan antara manager dan pemilik Liverpool yang menjadi konsumsi publik. Saat mendengarnya beberapa waktu yang lalu muncul di media nasional, saya hanya menganggapnya sampah. Tak pernah ada cerita begitu bagi kami. Beda banget dengan klub-klub yang lain.

Saya masih saja menganggap berita itu sebagai sampah. Meski hingga gameweeks 14 minggu kemarin, Liverpool memang berada di luar empat besar, namun  dengan sisa 1 pertandingan (Liverpool baru memainkan 13 pertandingan), adalah mungkin Liverpool berada selangkah di belakang The Gunners. Bahkan sama-sama belum terkalahkan di Liga Premier. Peluang di UCL pun belum tertutup, pun halnya di pertandingan Carling dan FA Cup.

Jadi saya masih menganggap kemungkinan Rafa keluar dari Anfield, sebagaimana JM di Chelsea, adalah omong kosong. Hingga akhirnya saat main ke sini,  saya mendapatkan link yang menuju ke situs petisi online  yang ditujukan ke pemilik Liverpool, duo Amerika, George Gillet dan Tom Hicks agar mempertahankan Rafa sebagai Manager The Reds.

Lantas saya mencermati tiap kata, saya kaget, dan mulai percaya bahwa sampah itu adalah hal yang nyata. Tanpa berpikir panjang saya turut dalam petisi itu. Saya pun menjadi orang ke 10.047, satu jam yang lalu, dan kini angka penandatangan petisi terus bertambah menjadi 11.095.

Anda ingin bergabung dalam petisi itu?

(andai ada yang menggagas petisi online untuk membubarkan pssi, eh, membersihkan pssi dari nurdin halid dan pendukungnya, serta merta saya bergegas turut larut di dalamnya)

[kkpp, 27/11/07]

Sikap Politik Sang Juara

Pernahkah kita membayangkan, Taufik Hidayat, jagoan bulutangkis Indonesia saat mengangkat Piala Thomas suatu hari nanti akan mengusung spanduk: “Gantung Koruptor!” atau “Adili Suharto” atau spanduk sejenis lainnya?

Pernahkah kita membayangkan Chris John saat memenangkan sabuk juara dunia tinju malah mengibarkan spanduk: “Adili Habibie – Kembalikan Timor Timur ke Pangkuan Ibu Pertiwi”?

Pernahkah kita membayangkan warganegara Indonesia yang karena jerih keringat perjuangan di medan olahraga, mampu mengibarkan Sang Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di puncak tertinggi capaian seorang atlet: Juara Dunia: namun di saat penuh haru itu menunjukkan sikap politiknya?

Bagi kita mungkin jarang kalau dibilang malah tidak pernah. Karena yang sempat mencapai supremasi dunia di cabang olahraganya, hanyalah sedikit dari atlet Indonesia. Bahkan bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja.

Tapi rasanya perasaan itu kini tengah melanda rakyat Amerika. Bagaimana tidak, saat malam penyerahan penghargaan kepada para juara “The 2007 World Bridge Championships” di Shanghai, China, 29 September hingga 13 Oktober 2007, team AS 1, Sang Juara Venice Cup ke-14 membawa papan bertuliskan “We Did Not Vote for Bush”. Bila pengin tahu fotonya, silahkan berkunjung ke sini dan ke sana.

Kejadian ini menimbulkan pro kontra di kalangan bridge dan juga bagi masyarakat Amerika. Bagi Ms. Gail Moss Greenberg, yang bertindak sebagai NPC (non-playing-captain) team juara itu, sikap itu adalah jawaban bagi atlet dari negara lainnya. Menurutnya, team AS sering mereka menerima pertanyaan dari rekan pemain bridge negara lain tentang sikap politik AS. Lantas, mereka ingin menunjukkan bahwa tak semua warga Amerika menyetujui langkah Presidennya.

Meski sempat diancam akan diberi sangsi, mulai larangan bertanding hingga kerja sosial, kasus ini lantas berakhir tanpa hukuman. Meski demikian, seperti dikutip dari situs New York Times, bagi team yang beranggotakan Jill Levin, Irina Levitina, Jill Meyers, Hansa Narasimhan, Debbie Rosenberg, Joanna Stansby dan Gail Greenberg (npc), sebagai gantinya memberikan pernyataan pengakuan bahwa bagi tim yang mewakili negara, seharusnya upacara penganugerahan hadiah tak digunakan untuk hal lainnya.

Saya jadi teringat kasus yang menimpa Michael Jordan beberapa tahun yang silam. Saat di upacara penganugerahan penghargaan, ada konflik antara sponsor kejuaraan dan pihak yang menjadi sponsor pribadi Michael Jordan. Lantas sang Maestro memilih menggunakan produk sponsor pribadinya namun menutup logo sponsor dengan bendera negara.

Lantas adakah kejadian ini berarti bagi kita? Mudah-mudahan Juara Dunia dari Indonesia di kemudian hari terus dilahirkan. Dilahirkan dengan talenta serta kesadaran untuk memilih tempat dan waktu yang tepat bagi Sang Juara untuk mengekspresikan sikap politiknya dilakukan tanpa melukai dukungan dan doa dari segenap penggemar dan rakyat dari penjuru negeri.

[kkpp, 22/11/07]

Macet

Belakangan ini media massa nasional banyak mengeluhkan kondisi Jakarta yang kian macet. Kemacetan yang dulu menjadi menu harian, kini makin menumpuk sejak pembangunan busway yang mulai merambah berbagai arah.

Saya yang hanya menyambangi Jakarta beberapa kali dalam setahun, bisa membayangkan bagaimana kemacetan itu. Bayangan itu pula yang menyebabkan saya akhir-akhir ini harus berpikir ulang untuk menerima tawaran untuk kembali bekerja di sana. Meski di Surabaya pun punya potensi yang sama untuk mengalami kemacetan. Namun setidaknya titik kemacetannya bisa dihitung, berapa lama dan di mananya pun bisa dikalkulasikan. Beda banget dengan di Jakarta.

Ya saya khawatir dengan kondisi kemacetan itu. Hitunglah berapa waktu yang terbuang di jalan. Meski ada teknologi yang kian canggih, rasanya kualitas pertemuan langsung dengan keluarga pun juga ikatan silaturahmi dengan kawan-kawan, jadi berkurang karena kita terjebak kemacetan. Energi positif yang memenuhi nadi dan saraf kita, jadi lebih mudah terbakar manakala kita berada dalam antrian yang kelihatan tidak bakal berkesudahan.

Hitunglah pula berapa BBM yang kita bakar percuma di ruang bakar kendaraan roda dua serta roda empat kita tanpa dikonversikan menjadi torsi yang menggerakkan roda. Padahal di luar sana, semua ribut mengkhawatirkan harga BBM yang nyaris mencapai titik psikologis di kisaran 100 USD perbarrel.

Banyak teori dan wacana telah disampaikan oleh pakar, ahli bahkan opini dan komentar dari penikmat macet harian. Bisa jadi betul dan mungkin solusinya adalah seperti yang mereka utarakan. Tapi adakah yang bergerak untuk menyelesaikannya?

Pada titik ini, upaya pemerintah DKI menggerakkan ide busway adalah layak dan diperlukan. Daripada bengong menunggu kapan kemacetan menguap dengan sendirinya, lebih baik bergerak, bekerja melakukan apa yang bisa.

Setidaknya seperti saya. Daripada saya pindah ke Jakarta, mendapatkan fasilitas kendaraan dinas seperti yang saya nikmati sekarang, bukankah lebih baik saya tidak ke sana di saat seperti sekarang. Bila banyak orang yang berpikir seperti saya, cukuplah kendaraan di Jakarta seperti saat ini, tak perlu ada penambahan kendaraan yang justru hanya menambah padat antrian kemacetan.

Sayang, saya tak punya banyak kawan yang berpikir senada.

[kkpp, 21/11/07]

Peluang Tetap Terjaga Seiring Rekor Baru

Aksi Benayoun dan Crouch yang tampil memukau saat menjadi starter pada pertandingan melawan Besiktas di fase group UEFA Champion League 2007/2008 menghidupkan asa peluang Liverpool untuk tetap berkiprah di ajang paling bergengsi di daratan Eropa. Bertanding di tiga laga sebelumnya, The Reds hanya mampu menyimpan satu poin hasil sekali seri dan dua kali kalah. Meski demikian, Liverpool harus memenangkan dua laga tersisa agar tetap berada di 16 besar tim terbaik Eropa tahun ini.

Peter Crouch membuka dan menutup pesta gol ke gawang Besiktas di menit 19 dan 88, sedangkan Benayoun mencatat hattrick kedua musim ini di menit 32, 52, 56. Babel yang turun ke lapangan sebagai pengganti Fabio Aurelio di menit 63, malah mencetak dua gol. Sang kapten bernomor punggung 8, menyumbang 1 gol sehingga menggenapkan kemenangan Liverpool menjadi 8-0. Rekor baru kemenangan terbesar di ajang UEFA Champions League di era modern. Rekor sebelumnya adalah dicatat oleh Arsenal yang menang atas Slavia Prague pada musim yang sama serta Juventus yang mengalahkan Olympiakos Piraeus pada Desember 2003. Baik Arsenal dan Juventus sama-sama mencatat tujuh gol.

Menciptakan rekor adalah penting. Namun, rekor baru ini membawa sejuta harap bagi Liverpuldian di seluruh penjuru dunia bahwa peluang untuk memenangkan tiap pertandingan tersisa kian menebal. Saat melawan Fulham, keinginan menyaksikan gol-gol yang dihasilkan Benitez Boys nyaris pupus hingga sepuluh menit terakhir. Gol Liverpool baru hadir di menit ke 81, setelah Torres yang tampil sebagai pengganti menunjukkan kelasnya sebagai pemain termahal di Anfield dengan menaklukkan Niemi, yang dalam pertandingan itu tampil cemerlang menggagalkan setiap peluang. Empat menit kemudian, Gerrard memastikan kemenangan dati titik penalti.

Kini jadwal Liverpool adalah memasuki masa jeda pertandingan internasional dimana jadwal Liverpool mendatang adalah tanggal 24 November bertandang ke Newcastle United. Perjumpaan yang cukup seru. Bukan saja reuni Michael Owen – Gerrard – Carragher, melainkan juga perjumpaan Benitez – Big Sam, yang kapan hari pernah berpolemik di media. Lantas kemudian menghadapi Porto di UCL.

Tiket di Newcastle sudah laku terjual. Semoga selama jeda, beberapa pilar yang cedera, Alonso, Agger, juga Pennant, bisa segera diturunkan. Semoga pemain yang turut membela negara tidak mendapatkan cedera baru. Semoga tidak ada lagi draw dan kalah. Ya, semoga.

Walk on, walk on…

[kkpp, 13.11.07]

Masih Adakah Peluang?

Pertanyaan di atas menggelayuti benak Liverpuldian yang menyaksikan kekalahan kedua Liverpool di fase group-32 UEFA Champions League 2007/2008. Bertanding di hadapan suporter Besiktas yang sangat atraktif dan tak henti bernyanyi sepanjang pertandingan (mengingatkan saya akan Aremania), pasukan Rafa Benitez harus menerima hasil akhir 1-2.

Meski tampil dominan sepanjang pertandingan, kelengahan lini belakang di awal babak pertama membuat Reina kebobolan dari tendangan yang membentur Sami Hyypia. Hyppia tentu bersedih. Dengan gol ini, maka mantan kapten Liverpool ini membuat gol bunuh diri dua kali berturut setelah Merseyside derby, Sabtu (20/10/07) yang lalu.

Pergantian Mascherano oleh Lucas Leiva serta Pennant oleh Benayoun tak cukup bisa menghasilkan gol. Malah Reina harus kebobolan lagi di sepuluh menit terakhir. Tandukan Gerrard beberapa menit kemudian, sempat menghidupkan asa saat pertandingan tersisa 5 menit plus 4 menit injury time. Sayang tak ada gol yang menyamakan kedudukan, meski Crouch turut bermain menggantikan Hyypia.

Hasil ini benar-benar mimpi buruk bagi finalis tahun lalu. Kekalahan dari Marseille di Anfield, plus draw di Porto menempatkan Liverpool di dasar klasemen. Praktis satu-satunya cara untuk lolos dari fase group hanya dengan memenangkan tiga laga tersisa.

Cukup berat, tapi Rafa Benitez masih cukup optimis. Seperti disampaikannya di situs resmi Liverpool,

“Obviously it is very difficult now for us to get through but I believe we still can. There are three games left and we must win all three, but we can do that. 

We have to wait to see now what we must do, how the numbers add up. The fact that Porto drew with Marseille in the other group game was a help for us, it certainly improves our options.

If we continue to play like we did in this match, with so much
dominance, we have a chance.”

Jadi, mari kita tunggu dengan penuh harap.

Walk on, walk on, with hope in your heart, you’ll never walk alone.

***

Dengan hasil ini, maka susunan pencetak gol Liverpool musim ini di segala ajang kompetisi adalah sebagai berikut:

  • Torres, 7 gol; 4 gol di BPL dan 3 gol di Carling Cup
  • Kuyt, 5 gol. Tiga gol di UCL, dan 2 gol penalti di Merseyside derby.
  • Voronin, 4 gol; 3 gol di BPL dan 1 gol di ajang UCL
  • Gerrard, 2 gol. Satu saat melawan Aston Villa dan satu melawan Besiktas 
  • Alonso, 2 gol. Dua gol dari partai melawan Derby County
  • Benayoun, 2 gol. Satu saat melawan Reading dan 1 gol penyelamat saat melawan Wigan
  • Crouch, 1 gol dari pertandingan lawan Toulouse
  • Hyypia, 1 gol
  • Sissoko, 1 gol
  • Babel, 1 gol.

Sementara Reina telah kebobolan 9 gol. Tiga dari penalti dan 2 dari gol bunuh diri (keduanya oleh Sami Hyypia). Sedangkan Itandje kebobolan 2 gol.

***

Sementara hasil UCL lainnya adalah sebagai berikut:

Grup A: Marseille – Porto (1-1)

Group B: Chelsea – Schalke (2-0) ; Rosenborg – Valencia (2-0)

Group C: Real Madrid – Olympiakos (4-2) ; Werder Bremen – Lazio (2-1)

Group D: Milan – Shakhtar (4-1) ; Benfica – Celtic (1-o) 

[kkpp.25.10.07]

Apalah Arti Sebuah Rambut

Di antara obrolan selama libur lebaran kemarin bersama keluarga, sanak, kerabat dan kawan-kawan lama, apa yang menarik bagi Anda? Kisah-kisah yang telah terlewat selama sekian waktu terpisah, ataukah kabar-kabari penuh pernik tentang kampung halaman?

Sungguh, obrolan semacam itu, tentang sekolah baru keponakan dan kemenakan, kisah kesehatan pakde dan paman, kabar kesuksesan kawan dan sepupu di karirnya, adalah cerita-cerita yang merajut kembali tali silaturahmi yang seolah terputus karena kesibukan serta jarak yang terentang. Bagaimanapun juga, obrolan langsung semacam itu terasa lebih hangat dan mengharu-biru dibandingkan dengan percakapan melalui sms, email, telpon bahkan live-chat sekalipun. Karenanya, banyak orang yang merindukan masa-masa libur lebaran.

Bagi saya, di tahun ini, 1 Syawal 1428 Hijriah, obrolan lebaran yang berkesan adalah obrolan tentang rambut saya. Selama ini, keluarga, sanak, kerabat dan kawan-kawan lama telah mengakrabi saya dengan rambut cepak. Sejak masuk ITS 14 tahun yang lalu yang, saat ada keharusan mahasiswa baru laki-laki ber”gundul”ria, saya tak pernah melewatkan rambut saya menjadi lebih dari 3 centimeter. Bahkan sewaktu menjelang pemilu 1997, saya menghabiskan rambut itu hingga plontos sebagai sikap politik waktu itu.

Dan kini, saat tampilan sewaktu libur lebaran, saya belum memotong rambut sejak November tahun lalu. Artinya hampir setahun saya tak pernah mengunjungi tukang potong rambut. Jadi bisa Anda bayangkan seperti apa.

Gak usah dibayangkan ding. Ini nemu foto di fesbuk bagaimana tampilan saya dengan rambut yang panjang.

kumpul-kumpul bareng alumni bridge ITS

kumpul-kumpul bareng alumni bridge ITS

Tentu saja hal ini mengagetkan keluarga, sanak dan kerabat, serta kawan lama yang baru bertemu lagi di libur lebaran kemarin. “Wah, pangling aku,” adalah sapaan yang paling sering saya terima pas bertemu. Bagi mereka mengakrabi dunia hiburan, rambut saya diasosiasikan ke sosok vokalis Nidji atau ke sosok Edi Brekele, eh Edi Brokoli. Bagi mereka yang mengakrabi politik, rambut saya diasosiasikan ke sosok Wimar Witoelar. Bagi penggemar acara talkshow televisi, rambut saya diasosiasikan ke acara Kick Andy. Bagi kawan penggemar Premier League, rambut saya diasosiasikan dengan Jermaine Pennant, pemain sayap Liverpool.

Saya sih, hanya ketawa-ketawa. Lumayan lah obrolan baru. Dan lucunya tadi malam, saat malam terakhir sebelum masuk kembali ke kantor setelah libur lebaran yang lumayan panjang, saya memotong rambut saya tersebut.

Saat tiba di kantor, di hari pertama setelah liburan, pagi itu pimpinan dan beberapa kolega telah hadir. Kehadiran saya spontan menarik perhatian. Tentu saja karena selama ini mereka mengakrabi rambut saya yang kian gondrong mekar dari hari ke hari. Tiba-tiba saja setelah tidak bertemu selama liburan ini, mereka tertawa lebar dengan potongan rambut saya yang sebagaimana biasanya seperti tahun-tahun yang lalu. Serta merta sambil berkeliling bermaaf-maafan kepada mereka yang hadir, sambil cengengesan saya bilang, “Kembali ke fitrah, Pak”.

[kkpp.22.10.2007]

Jalan Masih Panjang

Bagi Liverpuldian dimana saja, hasil pertandingan melawan Tottenham Hotspurs di Anfield minggu (7/10/07) malam waktu Indonesia menyisakan sedikit pahit. Pahit sisa kekalahan atas Marseille di tempat yang sama Kamis dini hari kemarin masih tersisa. Di tambah karena inilah partai ketiga di musim ini di kandang, dimana sang tamu bisa pulang membawa satu poin. Chelsea (1-1), Birmingham (0-0), lantas Tottenham (2-2).

Gol Andry Voronin di awal 20 menit tak lantas membikin Liverpool tampil trengginas. Yang ada malah kecolongan di akhir babak pertama dan di awal babak kedua. Kedua gol yang sangat mirip. Dari kiper (Paul Robinson), tandukan Berbatov menundukkan Hyypia, lantas satu sentuhan Robbie Keane menaklukkan Reina. Untung saja Torres menyelamatkan Liverpool dari kekalahan di masa injury time.

Sebagian dari kami sedikit jengkel. Di forum, di milis, banyak yang mempertanyakan hasil partai ini. Namun saya berada di pihak yang bersebelahan. Sedikit kecewa tapi masih tetap optimis. Saya sedikit banyak berdiri pada posisi Jamie Carragher seperti dilansir situs resmi Liverpool kemarin (9/10/07) ini:

“It’s a long season and there’s still a long way to go. Don’t forget, we’re still unbeaten in the league as well. We just have to make sure we win at Goodison in a couple of weeks.”

Ya, Liverpool masih memainkan 8 games BPL. Masih ada 30 partai lagi. Selama Liverpool mampu mempertahankan rekor tidak terkalahkan, masih ada kans kita berbahagia di akhir musim.

***

Update catatan gol setelah pertandingan ini adalah sebagai berikut:

  • Torres, 7 gol; 4 gol di BPL dan 3 gol di Carling Cup
  • Voronin, 4 gol; 3 gol di BPL dan 1 gol di ajang Champions
  • Kuyt, 3 gol. Satu dari Porto dan dua dari pertandingan lawan Toulouse
  • Alonso, 2 gol. Dua gol dari partai melawan Derby County
  • Benayoun, 2 gol. Satu saat melawan Reading dan 1 gol penyelamat saat melawan Wigan
  • Crouch, 1 gol dari pertandingan lawan Toulouse
  • Hyypia, 1 gol
  • Gerrard, 1 gol
  • Sissoko, 1 gol
  • Babel, 1 gol.

Sementara Reina kebobolan 6 kali (3 gol dari penalti) dan Itandje kebobolan 2 gol.

[kkpp.10.10.07]

Sahur di Kala Kekalahan Pertama

Sahur di hari ke-22, bulan Ramadhan 1428 ini terasa pahit. Bukan karena tidak ada lauk, bukan pula karena kehabisan stok gula. Semata karena kekalahan pertama Liverpool di ajang resmi musim 2007/2008. Gol Valbuena di menit 76 di pojok kiri gawang Reina seolah membangkitkan Liverpool yang sejak menit pertama seperti terlena. Namun sisa waktu tak cukup. Bahkan untuk sekedar menyamakan kedudukan. Walhasil, kekalahan 0-1 di Anfield harus diterima sebagai sebuah kenyataan.

Tampil dengan pasangan Crouch-Torres di depan, supply umpan dari sayap yang diperankan Benayoun dan Leto tidak banyak menghasilkan keakuratan. Sementara di tengah pun, Sissoko yang mendampingi SG8 tampil di bawah performanya. Begitu halnya ketika Riise, Voronin, dan Kuyt yang tampil sebagai pengganti, tak bisa mengkonversi peluang menjadi gol yang dinanti.

Sementara Marseille tampil dengan lima gelandang dan hanya menyisakan Niang di depan sebagai striker. Dua alumni Liverpool, Djibril Cisse dan Zenden tampil di pertandingan ini. Tampil pula Benoit Cheyrou yang merupakan adik dari alumni Liverpool lainnya, Bruno Cheyrou.

Seperti pertandingan-pertandingan terakhir, entah karena faktor rotasi yang mengakibatkan tidak ada pemain yang sama persis yang dimainkan dari satu pertandingan ke pertandingan yang lain, pemain Liverpool terlihat canggung dalam memberikan umpan dan men-support pergerakan pemain lainnya. Malah, mereka terlihat gugup ketika menghadapi serangan balik tim dari Prancis itu. Kartu kuning yang lebih banyak, penguasaan bola yang kalah, shot on goal yang kalah, telah menunjukkan bahwa tim harus berbenah.

Kehilangan 4 poin dari 18 poin yang mungkin, sangat terasa bagi tim yang bermain di fase group yang hanya menyisakan juara dan runner up group untuk lolos ke babak berikutnya. Namun peluang masih ada. Tinggal bagaimana Rafa mencari formulasi yang lebih greng. Entah kembali ke pakem: “Don’t change the winning team” atau tetap percaya kepada rotasi ala rafalution.

Yang jelas kemenangan tetaplah akan terasa manis, seperti halnya yang direguk oleh ketiga tim Inggris yang bermain di UCL. Arsenal menang 1-0 saat tandang. Pun juga dengan Chelsea dan Man U yang bermain kandang. Sementara kekalahan tetaplah pahit sebagaimana dirasakan juara tahun lalu, Milan di kandang Celtics.

***

Dari hasil pertandingan ini maka untuk pertama kali pula Reina dibobol melalui gol yang dihasilkan open play (bola hidup). Dan catatan torehan gol pun tidak berubah seperti ini:

  • Torres, 6 gol. Hattrick ke Reading (Carling Cup) dan dua gol dari Derby County dan 1 gol ke gawang Petr Chech
  • Voronin, 3 gol. Dua gol di ajang liga dan 1 gol di ajang Champions
  • Kuyt, 3 gol. Satu dari Porto dan dua dari pertandingan lawan Toulouse
  • Alonso, 2 gol. Dua gol dari partai melawan Derby County
  • Benayoun, 2 gol. Satu saat melawan Reading dan 1 gol penyelamat saat melawan Wigan
  • Crouch, 1 gol dari pertandingan lawan Toulouse
  • Hyypia, 1 gol
  • Gerrard, 1 gol
  • Sissoko, 1 gol
  • Babel, 1 gol.
%d blogger menyukai ini: