Kemana Uang Tilang Melayang?

Pernahkah Anda merasa tidak ikhlas saat membayar tilang? Seperti perasaan terpaksa memberikan sejumlah uang karena serasa dipalak ‘oknum’  polisi lalu lintas (OKNUM – istilah yang sangat dipopulerkan rezim Orde Baru, semacam pembenaran bahwa sebuah kesalahan oleh seseorang anggota institusi tertentu tidaklah mewakili kesalahan institusi tersebut)?

Atau memang sengaja “berdamai mengambil jalan pintas” daripada menunggu sidang dan kemudian membayar denda sesuai putusan sidang? Atau barangkali pernah menitipkan sejumlah uang denda tilang tersebut melalui rekening bank yang ditunjuk (saat ini adalah rekening BRI)?

Atau kalaupun Anda ditilang, Anda termasuk orang yang tak pernah takut sedikitpun untuk mengeluarkan sepeser uang karena tahu ada seseorang yang bakal menyelesaikannya? Atau bisa juga justru Anda termasuk pengendara yang sama sekali tak pernah berurusan dengan tilang, entah saking jagonya menghindari polisi atau malah yang di sisi ekstrem lainnya, Anda adalah seorang pengendara yang tertib?

Apapun pengalaman pribadi Anda dengan dunia tilang-menilang, pernahkah terbersit, kemana uang denda tilang itu seharusnya dan diperuntukkan untuk apa?

***

Dari terbersit, saya kemudian ingin tahu, karena selama ini juga tidak pernah menyadari kemana uang tilang itu melayang. Saya bisa memahami bahwa tilang adalah bagian dari penindakan yang berujung ke efek jera, tetapi kemanakah uang itu kemudian terkumpul. Apakah dipakai untuk peningkatan kualitas lalu lintas dan angkutan jalan, ataukah dipakai sebagai kesejahteraan penindak, atau ada kemungkinan lain.

Lantas akhirnya saya mencoba membaca UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Memang pada bagian ketentuan umum yang memuat definisi-definisi, hanya ada “dana preservasi jalan” yang terkait dengan uang. Itupun bukan terkait dengan uang tilang.

Kalau soal besaran denda memang banyak disebut. Misalnya di bab keduapuluh, banyak besaran yang disebutkan. Pengendara kendaraan umum tidak masuk terminal yang ditentukan ijin trayek denda 250 ribu rupiah. Juga tentang pengendara yang kendaraannya tidak dilengkapi dengan ban cadangan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda dan P3K, kena denda sebesar 250 ribu rupiah. Tidak memiliki SIM denda sejuta. Tidak memeliki peralatan spion, klakson, lampu utama, lampu penunjuk arah, speedometer, knalpot serta kedalaman alur ban yang memenuhi spesifikasi teknis, denda sebesar 250 ribu rupiah. Dan lain sebagainya (mungkin perlu dibikin posting khusus, hehe)

Tapi kemana uang denda itu bermuara? Apakah sama dengan denda pada tindakan pidana umum lainnya? Apakah termasuk pendapatan negara bukan pajak? Apakah juga diaudit? Oleh siapa?

***

Pertanyaan saya tak terjawab hanya dengan membaca undang-undang lalu lintas itu hingga bagian penjelasannya. Mungkin juga pertanyaan itu adalah pertanyaan konyol, karena para ahli hukum dan juga keuangan negara, pasti bisa menjawabnya.

Tetapi saya kemudian mempunyai pertanyaan sederhana. Sesederhana dinyatakan pada pasal awal undang-undang tersebut bahwa undang-undang ini diselenggarakan dengan asas transparan dan akuntabel.

Yaitu: tidakkah penyelenggara lalu lintas berkehendak untuk mengumumkan pendapatan denda tilang secara transparan kepada masyarakat? Atau bila memang kemudian diatur melalui rekening BRI untuk uang denda yang dititipkan (slip biru), tidakkah rekening BRI (rekening tunggal yang bersifat nasional) tersebut diumumkan ke khalayak? Jika iya, bukankah pelanggar tindak pidana lalu lintas bisa membayar denda tilang via ATM dengan mentransfer ke rekening yang dimaksud. Lebih singkat dan ringkas dan juga bisa meminimalkan kebocoran-kebocoran atas denda tilang tersebut.

Atau, keinginan saya tersebut tidaklah sesederhana itu? Entahlah.

[kkpp, 22.06.2011]

Keping Terkait:

Lampu Merah

Sila mampir juga ke:

Slip Tilang Biru

Ini Dia Surat Tilang Elektronik

Jempol buat Garuda

Emirsyah Satar, salah satu nama yang disebut-sebut oleh Rheinald Kasali dalam buku terakhirnya Cracking Zone, pernah mengalami kejadian kehilangan koper pada saat terbang menggunakan salah satu penerbangan dari salah satu maskapai bintang lima dunia (di artikel tersebut tidak menyebutkan maskapai mana dengan jelas). Koper tersebut ditemukan dua minggu kemudian di salah satu hotel di kawasan Marina Bay, Singapore. Itupun ditemukan setelah pihak hotel menelpon nomer yang terdapat di name-tag yang terdapat pada koper yang hilang tersebut.

Kisah tentang koper yang hilang itu, diungkapkan oleh Emirsyah Satar, Direktur Utama PT. Garuda Indonesia Tbk sejak 2005 dan terpilih kembali oleh RUPST tanggal 29 April 2011, melalui artikel di Garuda In-Flight Magazine edisi Juni 2011 yang saya baca pada sebuah penerbangan Garuda dari Timika ke Denpasar lanjut ke Surabaya.

Kisah itu diungkapkan oleh sang Dirut, yang sukses membukukan pendapatan usaha tahun 2010 sebesar 19,534 triliun rupiah, meningkat sebesar 9,4% dibanding 2009 sebesar 17,860 triliun rupiah, serta laba bersih menjadi 515,5 miliar rupiah dari sebelumnya (2009) 1,01 triliun rupiah atau merosot 49,3%, sebagai bagian kisah bahwa Garuda Indonesia terus berbenah menjadi maskapai yang bukan saja ikon negeri ini tetapi juga menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Dengan kisah koper yang dialaminya, Emirsyah Satar mengajak pembaca artikel tersebut untuk memahami bahwa kadang memang masih terjadi hal-hal kecil yang tidak mengenakkan (bahkan dilakukan oleh maskapai top dunia) tetapi Garuda berusaha untuk terus menaikkan layanannya yang diujungnya juga menaikkan kinerja perusahaan. Di artikel tersebut, Emirsyah Satar menyebutkan sejumlah rencana-rencananya untuk mewujudkan agar Garuda makin terbang tinggi: penambahan jumlah pesawat, menjadikan Makassar sebagai hub Indonesia kawasan timur, serta kerjasama dengan pihak pariwisata di sejumlah daerah.

  ***

Entah sebuah kebetulan, usai membaca artikel tersebut, pada saat menunggu mengambil bagasi di Bandara Juanda, yang dinobatkan sebagai bandara terbersih tahun ini (yang saya baca di spanduk yang terpasang di Juanda), seseorang petugas Garuda,Vinda, menghampiri saya.

“Sudah lengkap, Pak? Boleh saya lihat kupon bagasinya?”

“Kurang satu,” kata saya sambil menunjukkan kupon yang menandakan kepemilikan atas bagasi tersebut.

“Tasnya warna apa?

Saya kemudian mendefinisikan tas yang belum ketemu tersebut.

Hingga semua bagasi telah diambil pemiliknya, tas saya tersebut tidak ditemukan. Sempat khawatir, karena di tas itu ada salah satu harddisk eksternal. Tetapi dengan penampilan para petugas yang tidak terlihat panik pun juga tidak terihat acuh, saya berharap bahwa tas saya itu dapat kembali tak kurang suatu apa.

“Kok bisa tahu kalau saya kehilangan tas, mbak?”

“Iya, tadi kami dapat fax dari Denpasar, bahwa mereka missing satu tas atas nama Bapak. Semoga cuma terbawa ke Jakarta,” kata Vinda sambil mengisi form kehilangan bagasi.

“Mohon maaf, pak, atas ketidaknyamanannya. Nanti akan kami antar ke alamat Bapak.”

“Bener dianter?” tanya saya agak sangsi, karena pengalaman sebelumnya dengan maskapai lain, saya harus kembali ke Bandara Soekarno Hatta untuk mengambil tas yang hilang.

“Wah, enak juga kalau sering kehilangan koper. Jadi gak perlu berat-berat pulangnya,” lanjut saya berseloroh. Habis gimana lagi, mau marah juga tidak bakal menyelesaikan masalah.

Benar saja, malamnya, lima jam sejak saya sampai di rumah, tas itu diantar! Terima kasih Garuda!

 ***

Ada dua hal yang biasanya menyebalkan pengguna jasa penerbangan yang tidak terkait dengan harga yaitu: pertama, jadual penerbangan yang terlambat, kedua, kehilangan bagasi. Sementara layanan lainnya akan setara mengikuti harga yang dibayarkan. Ono rego ono rupo, kata orang Jawa.

Untuk yang pertama, Garuda membukukan prestasi di tahun 2010, keterlambatan  (OTP) sebesar 80,2%. Sedangkan yang kedua, pengalaman saya di atas bisa jadi mewakilinya.

Tetapi yang terpenting adalah bahwa Garuda adalah salah satu ikon Indonesia. Dari nama, kepentingan, serta kemaslahatannya, rakyat Indonesia banyak berharap padanya. Jika nama Garuda jatuh begitu halnya nama Indonesia. Tetapi dengan dipiloti seorang yang cerdas dan idealis, maka boleh jadi kita banyak berharap.

“Fortunately, while I’m not filthy rich, I have enough. And if Indonesians don’t help this country, who will? Garuda is an Indonesian icon. If it improves, the country’s image improves. And I am a proud Indonesian. And I like challenges. I joined as one of Garuda’s youngest CEOs and it was a great opportunity to do something.”Emirsyah Satar

Terbanglah terus, Garuda! Kepak sayapmu membanggakan kami.

[kkpp, 17.06.2011]

Nyasarudin

Masih ingat tentang lagu Udin Sedunia yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Sualuddin, pemuda asal Lombok yang populer menyusul kepopuleran Sinta dan Jojo karena keberadaan situs YouTube?

Jika tidak, berikut adalah liriknya:

ni lagu tentang sebuah nama.. 
kata orang udin nama kampungan 
jadi lagu enak juga didengar 
kalau gak percaya, simak dengan seksama 

udin yang pertama, namanya awaludin 
udin yang suka di kamar, namanya kamarudin 
udin yang hidup di jalanan, namanya jalaludin 
udin penggembala, namanya sapiudin 

moooo…

udin udin, namamu norak tapi terkenal 
udin udin, walaupun norak banyak yang suka hahahaha.. 

udin yang sering ke masjid, namanya alimudin 
udin yang rajin berdoa, namanya aminudin 
udin yang agak stress, namanya sarapudin 
udin yang tidak stress, namanya sadarudin 

udin udin, namamu norak tapi terkenal 
udin udin, walaupun norak banyak yang suka hahahaha.. 

udin yang penjual nasi, namanya nashirudin 
udin yang suka ke wc, namanya tahirudin 
udin yang suka telepon, namanya hapipudin 
udin yang jadi teroris, namanya noordin m top! 

udin udin, namamu norak tapi terkenal 
udin udin, walaupun norak banyak yang sukahahahaha.. 

udin yang terakhir, namanya akhirudin

[Udin Sedunia dipopulerkan oleh  Sualuddin]

Liriknya lucu dan dibawakan dengan kocak. Kira-kira populer di awal bulan Maret tahun ini, bahkan sempat diundang live di panggung musik salah satu televisi nasional. Meski demikian, lagu ini sempat dilarang dengan alasan melanggar estetika karena memperolok orang lain. Lebih lengkapnya baca di sini.

Sebuah kebetulan pula, tiga bulan kemudian, ada beberapa kasus besar yang menjadi perhatian khalayak dan menjadi headline media massa nasional yang menyangkut Udin lainnya. Pertama, adalah kisah tentang Muhammad Nazaruddin, Bendahara Umum Partai Demokrat yang diberhentikan karena diduga terlibat dalam kasus suap, dan kini kabur (atau ‘dikaburkan’) ke negeri tetangga yang sering jadi jujugan tempat pelarian. Udin yang kedua adalah Syarifuddin, seorang hakim yang ditangkap KPK di kediamannya (1/6) karena diduga menerima uang suap atas penanganan sebuah perkara pailitnya sebuah perusahaan.

Keduanya memang masih dugaan. Bukankah selama ini kita senantiasa mendengungkan bahwa kita adalah negara hukum serta menganut azas praduga tak bersalah? Selama belum ada putusan mengikat dari segi hukum, maka selamanya pula kita menduga-duga.

Tetapi seandainya proses hukum itu berjalan penuh rekayasa, jangan salahkan khalayak bila menikmatinya sebagai sebuah kelucuan, sebagaimana menikmati lucunya lagu Udin Sedunia. Bukankah kedua kasus menyangkut dua Udin di atas adalah kasus-kasus yang sering mewakili wajah bopeng korupsi negeri ini, kisah bobroknya politisi ramai-ramai merampok anggaran negara, kisah bobroknya pengadil yang tak adil karena godaan harta? Kemana ending-nya, khalayak bisa menebak: ketawa atas olok-olok atau marah atas olok-olok yang sama.

Seorang kawan di akun twitter-nya sempat menulis:

Bendahara PD yg lagi bingung di singapore namanya nyasarudin

Anda memilih yang mana atas kedua kasus dua Udin di atas: ketawa apa prihatin? Kalau ketawa, jadilah Anda bernama Tawauddin. Kalau prihatin, jadilah Anda bernama Prihatinuddin.

Ah, Udin … Udin ….

[kkpp, 03.06.2011]

Keping Terkait:

Tembak Saja! 

Alangkah (nggak) Lucunya Negeri Ini

Sila mampir juga ke:

– Testimoni Nazaruddin Di-“Posting” di Indonesia 

– Ini Perkara yang Divonis Bebas Hakim S 

Lampu Merah

Menjelang pukul tiga dinihari, bersama seorang kawan dalam perjalanan pulang usai bermain bridge. Jalanan telah lengang. Padahal di pagi hingga malamnya, biasanya perempatan itu ramai, bahkan kadang menimbulkan ekor antrian yang lumayan mengular.

Karena keasyikan ngobrol dan didukung suasana yang telah lengang, kali itu saya melewatkan lampu merah. Sangat jarang lampu lalu lintas di atas jam sebelas malam di Surabaya masih berwarna merah. Biasanya tinggal si lampu kuning yang terjaga.

Tiba-tiba seorang polisi menyegat saya. Setelah berbasa-basi sesuai standar operasi yang terdiri rangkaian sapaan, menanyakan SIM maupun STNK, bapak polisi tadi berkata,” Pak, yang namanya lampu merah itu selama 24 jam artinya tetap sama. Berhenti.”

Saya tercenung. Pak Polisi itu benar adanya.

***

Ya, Pak Polisi itu benar. Meski sempat terselip prasangka: mengapa jam segitu masing nongkrongin lampu merah dan pelanggarnya. Seratus persen benar dan seratus persen malam itu saya yang salah.

Tanpa harus buka UU Lalulintas, siapa saja juga tahu bahwa lampu berwarna merah identik untuk berhenti (stop) dan yang hijau untuk berjalan (go), meski di China ide pokok tentang lampu lalu lintas ini sempat dimodif menjadi merah berarti jalan (go) tetapi tidak berhasil, sepertinya seluruh dunia mengakui ide Garrett Augustus Morgan bahwa, tujuan dari lampu lalu lintas tentu saja untuk kebaikan bersama. Meminimalkan kecelakaan, juga untuk mengatur perlintasan agar tidak saling serobot.

Tapi sayangnya, seringkali kita juga melihat keseharian betapa banyaknya pelanggaran terhadap aturan bersama itu. Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi karena menerobos lampu merah tak bisa dihitung lagi. Begitu juga kemacetan-kemacetan yang malah menjadi karena ketidaksabaran kita menunggu datangnya lampu hijau berkedip.

Yang lebih ironis lagi, anak-anak kita di bangku sekolahan sejak play-group, taman kanak-kanak dan sekolah dasar, sudah diajarkan hal tersebut tetapi di keseharian mereka sering menemukan pelanggaran atas lampu merah. Sebagai orang tua, tidakkah kita mengelus dada, pendidikan macam apa yang hendak kita berikan kepada anak-anak kita jika di dunia nyata anak-anak kita menemukan kenyataan bahwa semua aturan yang diajarkan adalah dibuat untuk dilanggar?

Mungkin karena itu, korupsi di negeri ini sedemikian sulit dibasmi. Lha wong taat pada aturan lampu merah saja enggan…

[kkpp, 01.06.2011]

Keping terkait:

Sumber Bencono

Sila mampir juga ke:

Lampu Merah dengan Gue

Celoteh Nuha: Nama Lengkapnya Rotiboy

Dari nama lengkap anak saya kedua, nama panggilan yang kami pilih adalah Alvaro, nama depan dari nama lengkapnya yang terdiri tiga nama. Karena terdiri dari tiga suku kata, maka kami kemudian memilih nama singkat “Varo”. Kadang Bundanya memanggil dengan “Al”, kadang tante-tante dan budhe-nya memanggil dengan turunan dari Varo, yaitu “Vayo”, “Va-O”.

Saya sendiri lebih sering memanggil dengan “Le”, turunan dari “tole”, cara orang Jawa memanggil anak laki-lakinya, sebagaimana cara Bapak memanggil saya. Kadang saya memanggilnya “Dik” sebagai pembahasaan untuk Nuha.

Suatu malam, Nuha kemudian berceloteh,  “Yah, sebenarnya nama adik lebih keren kalo dipanggil Boy.”

“Kok bisa?”

“Iya. Adik kan anak cowok dan ganteng. Lebih keren dipanggil Boy daripada Le.”

Aku cuma ketawa.

6971609169_77630e9f4b
Foto ilustrasi pinjam dari http://www.ritualmakan.blogspot.co.id

“Kalau jadi dipanggil Boy, nama lengkapnya Rotiboy,” ucap Nuha tanpa merasa bersalah.

Kali ini aku bukan sekedar ketawa. Ngakak malah. Kok bisa milih nama Rotiboy. Kalau dituntut melanggar hak cipta bagaimana?

[kkpp, 26.05.2011]

Tulisan terkait:

Celoteh Nuha: Ayah, Jangan Pulang Malam!

Celoteh Nuha: Ayam Kakung

Celoteh Nuha: Belajar Memilih

Tembak Saja!

“Tak ada binatang yang lebih cerdas selain mereka,” ujar teman sekantor saya berapi-api pada suatu sore.

“Kok bisa?”

“Mereka itu sama seperti kita, pakai acara meeting segala, mengantisipasi semua hal agar bisnis mereka tetap jalan.”  Kami masih kebingungan dengan apa yang disampaikannya. “Coba saja, kalau kita pasang lem, cuma berhasil pada kesempatan pertama. Kemudian keesokan harinya, mereka rapat. Saat absen, baru ketahuan kalau anggota rapat berkurang satu, maka pimpinan meeting mengutus untuk mencari kemana si anggota itu menghilang. Saat ketahuan si anggota yang absen karena mati kena lem, maka mereka segera mengantisipasi agar tak terulang kejadian yang sama pada anggota yang lain,” lanjut teman saya itu.

“Bagaimana dengan racun?”

“Atau juga dengan jebakan?”

Kami mencoba memberikan beberapa alternatif pada teman kantor itu yang udah mirip dengan penjual jamu yang dikerubungi banyak orang.

“Sama saja,” ujar kawan itu dengan yakin. “Mereka tetap menggunakan mekanisme yang sama. Rapat, berhitung, bila ada yang kurang ditanya kemana perginya yang kurang itu, kalau kemudian ada masalah mereka bisa tahu bagaimana mengantisipasinya agar tak mengulang kesalahan yang sama.”

“Bagaimana dengan jangkrik? Kata beberapa artikel, suara jangkrik tak disukai oleh tikus-tikus,” ujar kawan lainnya, kali ini dengan argumen yang sedikit lebih akademis.

“Atau dengan alat pengusir tikus yang menggunakan frekuensi tinggi? Mungkin cara kerjanya mirip dengan suara jangkrik itu?”

“Tahu nggak saudara-saudara, untuk satu dua hari pertama memang bisa berhasil. Hari ketiga, mereka bakal pakai sumbat telinga, mirip kalau kita masuk pabrik dengan menggunakan ‘ear plug’. Sungguhan, saya pernah melihat tikus yang pakai sumbat itu,” kawan saya itu tetap pada pendirian bahwa tikus adalah binatang yang paling cerdas yang pernah ditemuinya.

“Kalau begitu, bagaimana caranya berperang dengan tikus?”

“Tembak saja!”

“Tembak?”

“Iya. Tembak saja. Kalau pakai senapan angin 4.5″ harus tepat pas kepalanya. Kalau tidak, nanti matinya bisa tidak ketahuan dimana, dan menyebar busuk yang sulit diketahui dimana, karena tikus suka mati di tempat yang tak terjangkau.”

Kami manggut-manggut. “Kalau mau lebih sreg, pakai yang 5.5″, tapi susah sekarang nyarinya. Perlu ijin,” lanjut kawan tadi itu. “Kecepatan peluru jauh lebih cepat dari reflek mereka.”

“Tapi ya itu, harus disanggong.”

***

Sore itu, tikus sedang jadi tren obrolan di kantor. Kerusakan yang dialami di kantor kami jadi awal pembicaraannya. Padahal di kantor kami sudah memasang alat pengusir tikus berfrekuensi tinggi. Persis seperti yang dikatakan kawan tadi, keberhasilan itu hanya pada beberapa hari awal saja. Hari-hari selanjutnya, malah seolah mereka mentertawai kami, dimana mereka justru bermain-main di sekitar alat itu.

Beberapa aksi menyebalkan tikus lainnya adalah memakan kabel, memakan steoroform saluran AC yang menyebabkan bocornya air kondensasi. Teman-teman di kantor malah sudah tidak berani meninggalkan makanan dibiarkan terbuka di meja.

Sementara di rumah, hal lain yang menyebalkan dari tikus adalah perbuatannya menggali tanah (bahasa Jawa: ngerong), kebisingan akibat beberapa barang dijatuhkan mereka, serta bau yang menyengat. Serta yang perlu diingat, tikus merupakan hewan pembawa beberapa penyakit (baca di sini)

Bisa jadi, kawan saya tadi benar. Tikus yang sebenarnya ada beberapa macam, misalnya tikus rumah (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus) juga tikus wirok (Bandicota sp), adalah hewan yang cerdas atau malah dikesankan licik.

Di dunia komik, tokoh tikus yang paling ngetop adalah Miki Tikus (Mickey Mouse) yang bahkan malah menjadi ikon dari Walt Disney Corporation. Juga kita mengenal tokoh Jerry, tikus yang terlihat lebih cerdas mengakali si Tom, kucing yang malang.

Tahun 1986, Iwan Fals pernah menuliskan sebuah lagu, judulnya Tikus Tikus Kantor. Lagu ini terdapat pada album Ethiopia. Liriknya adalah sebagai berikut:

kisah usang tikus-tikus kantor yang suka berenang di sungai yang kotor

kisah usang tikus-tikus berdasi yang suka ingkar janji

lalu sembunyi di balik meja teman sekerja

di dalam lemari dari baja

kucing datang cepat ganti muka

segera menjelma bagai tak tercela

masa bodoh hilang harga diri

asal tidak terbukti ah

tentu sikat lagi

tikus-tikus tak kenal kenyang

rakus-rakus bukan kepalang

otak tikus memang bukan otak udang

kucing datang

tikus menghilang

kucing-kucing yang kerjanya molor

tak ingat tikus kantor

datang men-teror

cerdik licik

tikus bertingkah tengik

mungkin karena sang kucing

pura-pura mendelik

tikus tahu sang kucing lapar

kasih roti jalanpun lancar

memang sial sang tikus teramat pintar

atau mungkin si kucing yang kurang ditatar

[Tikus Tikus Kantor ~ Iwan Fals] 

Andai tikus adalah perlambang para koruptor, sebagaimana Iwan Fals menyampaikannya di tahun 1986 tetapi masih saja tetap relevan hingga sekarang, maka saya kemudian menyetujui pemikiran kawan saya tadi.

Para tikus-tikus itu dan para koruptor-koruptor itu, mereka benar-benar lihai. Aturan dan segala mode pencegahannya hanya berhasil di awal-awal saja. Segera saja mereka menemukan cara menghindarinya. Dan hingga kini, tak pernah ada cerita tikus termasuk hewan yang langka.

Jika demikian, maka saya menyetujui kawan saya: Tembak saja! Setidaknya, peluru itu akan mengurangi koruptor satu demi satu.

[kkpp, 24.05.2011]

Di-retweet Itu Bonus

Saat kerja di media dulu, Mas Luthfi, pimred saya waktu itu, pernah menantang saya untuk bikin artikel tentang sesuatu yang terkait dengan perkuliahan saya di Fakultas Teknologi Kelautan. “Kerjakan sesempatnya saja,” kata Mas Luthfi waktu itu. Maklum, tantangan tersebut adalah di luar tugas pokok saya di desk politik/pemerintahan kota Surabaya.

Saya iyakan saja tantangan itu tapi karena ada embel-embel ‘sesempatnya’ makanya tidak segera terealisasikan. Rupanya Mas Luthfi cukup serius. Beberapa kali beliau menanyakan tulisan saya tersebut. Gerah, akhirnya jadi juga artikel yang dimaksud. Sehingga saat beliau menanyakan di lain waktu, saya bisa menjawab dengan cergas, “sudah selesai, Mas,” sambil menyebutkan nama folder dimana saya menyimpan draft artikel tersebut. “Oke. Nanti aku periksa kalau longgar,” jawab Mas Luthfi.

Beberapa hari kemudian, Mas Luthfi memanggil saya pas kondisi kantor di Graha Pena masih lengang. “Aku sudah cek artikelmu. Apik!” Segera aku teringat Pak Tino Sidin, host acara melukis buat anak-anak di TVRI jaman masih kanak-kanak dulu.

“Tapi gaya penulisanmu mestinya cocok untuk dimuat di Kompas, bukan di sini.” Saat itu saya bingung, apakah itu sebuah pujian atau memang benar-benar style Pak Tino Sidin yang memuji semua lukisan yang masuk ke mejanya tanpa peduli kualitasnya memang bagus atau tidak, semata memberikan motivasi untuk anak-anak. “Layak muat. Sayang aku gak punya halaman kosong untuk artikel itu,” Mas Luthfi menutup pembicaraan.

Saat harapan melihat tulisan itu punah, beberapa hari kemudian, semua artikel-artikel itu malah dimuat satu halaman penuh.

***

Beberapa waktu lalu, beberapa kawan di dunia twitter yang keranjingan me-mention @fiksimini dan @sajak_kata mendiskusikan bagaimana mendapatkan sebuah retweet (RT).

Dalam diskusi itu, sempat terlontar tentang bagaimana para moderator atau admin-nya (yang berkuasa me-RT) bersikap tebang pilih. Sementara dari timeline moderator dan admin juga sempat mengeluhkan ketidakkreatifan para follower yang berlomba-lomba mengekor tweet yang telah di-RT.

Mendapat RT, layaknya sebuah tulisan dimuat. Juga setara dengan lagu atau album yang mendapat payung dari major label. Karenanya, bagi sebagian orang ada sebuah kepuasan tersendiri ketika mendapat RT.

Masalahnya adalah ada penilaian bahwa RT kok begitu-begitu aja. Mengapa hanya berlaku pada orang-orang tertentu saja.

Bagi saya sih sederhana. Selera tidak bisa dipaksakan. Jika Anda sekarang bosan dengan lagu kemelayu-melayuan yang tengah booming di dunia musik anak negeri saat ini, apakah kemudian Anda menyalahkan para music director dari industri musik saat ini? Atau apakah Anda kemudian malah membikin sendiri indie label?

Demikian halnya di industri media cetak. Kewenangan artikel atau berita apa yang dimuat terletak di tangan dewan redaksi.

Pada bagian awal tulisan ini misalnya, Mas Luthfi yang bertindak sebagai pribadi tidak bisa seenaknya memuat hal dengan kacamata pribadi. Ada ketentuan-ketentuan tak tertulis yang menyebabkan suatu artikel bisa dimuat di media tertentu tetapi tidak bisa dimuat di media tertentu lainnya. Gaya bahasa, target pasar yang dibidik, kecenderungan kebijakan dewan redaksi, dll, dll, adalah pakem yang harus diikuti oleh wartawan ataupun penulis lepas.

Begitu halnya dengan penulis buku yang harus bernegosiasi dengan pihak penerbit. Kalau tak menemukan penerbit tetapi tetap pengin melihat bukunya terbit, mau tidak mau ya harus menerbitkan bukunya sendiri.

Saran saya, kalau pengin selalu mendapat RT ya ikuti kemauan yang punya kuasa me-RT. Atau, jadilah orang beken dengan sekian ribu follower, pasti pihak yang punya kuasa me-RT tak bisa mengelak dari efek halo. Dengan hanya 140 karakter, bisa jadi banyak pengulangan. Bila mirip-mirip, orang pasti me-RT dari akun orang beken dibandingkan orang yang kurang beken.

Bila tidak mau mengikuti dua opsi di atas, saran saya terakhir adalah tetaplah menulis apapun yang ingin dituliskan. Masalah di-RT itu adalah bonus.

[kkpp.19.05.11]