Tutup

Undangan Demo Revolusi PSSI di Bundaran HI

Atas nama solidaritas mendukung upaya memperjuangkan perubahan PSSI, maka dengan sengaja saya mem-posting ulang undangan untuk demo mendukung perubahan PSSI sebagaimana email yang saya dapatkan dari seorang nawak.Meski saya terpisah jarak, hati dan jiwa saya bersama mereka yang masih bisa melihat: mana yang benar dan mana yang salah. Satukan hati, satukan tekat: REVOLUSI PSSI!! 

Berikut adalah kutipan undangan itu: Sehubungan dengan Ancaman FIFA untuk membekukan persepakbolaan Nasional dan carut marutnya kepengurusan PSSI, di berbagai media, cetak maupun elektronik maupun wacana berbagai milis, website, blog yang berkembang di kalangan para supporter, pecinta bola Indonesia, termasuk dari Pengurus Klub maupun Pengda banyak yang menginginkan REVOLUSI PSSI untuk menyelamatkan persepakbolaan Nasional, namun semuanya MENUNGGU dan menunggu.

Oleh karena itulah, memanfaatkan momen penting rencana pertemuan Menpora dengan AFC tanggal 26 Maret 2008 di Malaysia, Insan Pecinta Bola Indonesia yang dimotori oleh AREMANIA akan melakukan DEMO REVOLUSI PSSI di Bundaran HI.

Seperti kita ketahui, bahwa Statuta FIFA tidak membolehkan Pemerintah dalam hal ini Menpora untuk ikut campur menangani internal PSSI. Namun demikian, masih ada cela agar Menpora bisa masuk menangani carut marut persepakbolaan nasional, yaitu apabila AFC memberikan WEWENANGNYA kepada Menpora.

Untuk tujuan itulah, sebelum tanggal 26 Maret tepatnya :

Hari: Selasa, 25 Maret 2008

Jam : 10.00

AREMANIA bersama komponen Bola lainnya (Suporter, wartawan dan pecinta Bola Indonesia) akan demo besar-besaran di Bundaran HI Jakarta untuk menyampaikan bukti sekaligus membentuk Opini terhadap AFC dan FIFA, bahwa pecinta bola Indonesia sudah Tidak Percaya Lagi kepada Kepengurusan PSSI dan mengharapkan PEROMBAKAN TOTAL Kepengurusan PSSI.

Insya’allah misi suci ini akan menjadi pendorong bagi AFC untuk melimpahkan wewenangnya kepada Menpora untuk SEGERA melakukan MUNASLUB dan Mengganti Seluruh Kepengurusan PSSI yang sudah gagal Total memperpuruk persepakbolaan Nasional ini dengan kepengurusan baru yang lebih Profesional.

Untuk itulah, kami mengajak seluruh AREMANIA Jagad raya untuk mendukung gerakan ini dengan menggetuk-tularkan (menyampaikan) informasi ini kepada teman2 Suporter lainnya agar ikut dalam MISI SUCI REVOLUSI PSSI.

Kita Manfaatkan Momentum ini sebaik-baiknya. Kalau Tidak Sekarang kapan Lagi ? Kalau Tidak Kita Yang Melakukan Siapa Lagi ?

Salam Satu Jiwa,

Rachmad H

[kkpp, 24/03/08]

Update:

  • Ijin dari kepolisian sudah didapatkan namun tempatnya pindah ke Patung Kuda Monas / depan Indosat, dengan jam yang sama (diposting: 25/03/08 pk 09.00 wib)
  • Demo juga dilanjutkan ke kantor PSSI. Saat demo di Kantor PSSI, Pengurus PSSI mempersilahkan 6 (enam) orang perwakilan untuk masuk berdialog menemui Pengurus PSSI, namun PENAWARAN itu DITOLAK. Para pendemo tetap bernyanyi dan berorasi di luar. Akhirnya…., justru pengurus PSSI dipimpin Nugraha Besoes yang keluar menemui para pendemo untuk berdialog di luar. (diposting: 26/03/08 pk. 09.15 wib)

KBBI Online

Entah mengapa saya begitu menyukai bahasa Indonesia. Mungkin sejak saat saya di bangku sekolah dulu. Saat itu ada penugasan untuk melihat serta membikin ringkasan acara di televisi nasional yang khusus membahas mengenai “berbahasa yang baik dan benar”. Lantas saat mengetahui kesejarahannya hingga ketika menjadi mahasiswa secara sadar mengganti frase “… berbahasa satu, bahasa Indonesia” dalam sumpah pemuda menjadi “… berbahasa satu, bahasa kebenaran”. 

Dulu, saya hanya mampu menggapai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan Balai Pustaka itu hanya saat saya bermain di perpustakaan. Tak mampu saya mendapatkan KBBI yang diterbitkan pertama kali tahun 1988 itu secara pribadi.

Kini, alangkah senangnya saya ketika mendapatkan informasi yang di-sharing di milis alumni tentang KBBI Online yang dapat di-klik melalui alamat  http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/  

Saya sudah mencobanya dan mendapatkan bahwa KBBI daring itu memang cukup berguna. Tampilannya cukup ringkas dan tepat guna. Anda tinggal memasukkan kata yang Anda inginkan, dan beberapa saat kemudian apa yang Anda inginkan telah muncul di layar. 

Di halaman muka website itu, Dr. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, menyampaikan bahwa KBBI daring ini adalah berbasiskan KBBI edisi ketiga, edisi terakhir dari KBBI yang diterbitkan tahun 2001. Rencananya KBBI edisi keempat akan diterbitkan pada tahun ini. 

Selamat berbahasa Indonesia. 

[kkpp, 18.03.08] 

Tebak Tepat Rafa

Setelah melalui lebih dari 40 pertandingan, akhirnya saya menebak tepat FantasyRafa, yaitu dengan menyusun tim Liverpool yang akan dimainkan Rafa Benitez. Tebakan saya itu baru berhasil tepat 100% pada pertandingan versus Reading di Anfield saat ajang Barclay Premier League tanggal 15 Maret 2008. Di laga yang diwarnai gol pertama Masche dan gol ke-20 Torres di ajang BPL ini, saya memilih: Reina (gk), Arbeloa, Carragher, Skrtel, Aurelio, Alonso, Mascherano, Gerrard, Kuyt, Babel, dan Torres.

Sedari pertama ikut di awal musim, baru kali ini saya memilih dengan tepat sebelas pemain yang diturunkan pada suatu pertandingan dan akhirnya saya bergabung menjadi salah satu dari 2262 tebakan tepat berbanding dengan 91.020 prediksi yang pernah dibuat sepanjang musim ini. Duh, senangnya.

Cukup sulit memang mencoba menebak apa yang ada di benak Rafa, apalagi Rafa gemar melakukan rotasi. Dulu hanya ada tiga pemain yang pasti diturunkan, Reina, Carra dan Sang Kapten Fantastik. Tetapi belakangan, pelatih asal Spanyol yang telah empat musim di Liverpool ini mulai mempercayai formasi kemenangan dengan menempatkan Torres sebagai ujung tombak, Kuyt di kanan, Babel di kiri, Gerrard diberi kebebasan bergerak, dan posisi gelandang bertahan dipercayakan pada Masche berpasangan dengan Alonso atau Leiva.

Sementara di belakang, cedera metatarsal yang dialami Daniel Agger, tertutupi oleh kehadiran Skrtel yang melapisi Carra serta The Big Fin, Sami Hyypia. Bek kanan diisi Arbeloa atau Finnan tergantung mana yang sedang fit. Begitu halnya di kiri yang diisi bergantian antara Riise atau Aurelio.

Sementara itu masih ada delapan pertandingan sisa BPL, dan di ajang UEFA Champions League masih ada 5 pertandingan bila Liverpool kembali hadir di laga final di Moscow. Dengan demikian, bagi saya, masih ada sejumlah laga untuk kembali menebak tepat apa yang ada di benak Rafa. Mudah-mudahan tebakan tepat itu seiring prestasi kemenangan The Reds.

[kkpp, 17/03/08]

Kejurnas Bridge Ke-46 serta Kejurnas Bridge Mahasiswa Ke-10 Bakal Diselenggarakan di Banten

Kejurnas Bridge Ke-46 serta Kejurnas Bridge Mahasiswa Ke-10 bakal diselenggarakan di Banten, 26 April 2008 hingga 4 Mei 2008 mendatang. Perhelatan tertinggi bagi insan bridge di tanah air yang rencananya dipertandingkan di Gedung TMC, Puspiptek, Serpong, Tangerang ini, akan mempertandingkan 8 kategori di ajang Kejurnas (antar club, antar provinsi, patkawan terbuka wanita, pasangan putra, wanita, campuran, yunior dan senior) serta 5 kategori di ajang Kejurnas Mahasiswa (patkawan putra & putri, serta pasangan putra, putri, dan campuran).

Selain kedua Kejurnas itu, perhelatan ini dimeriahkan pula oleh para pelajar (SD/SMP/SMA) yang tampil di Kejurnas Pelajar Ke-5 yang mempertandingkan 12 kategori kejuaraan mini bridge.

Semoga Panitia Pelaksana diberi kemudahan pelaksanaan, dan semoga pula ada kesempatan untuk hadir di perhelatan itu.

[kkpp, 27/02/08]

note: info diperoleh dari milis ina-bridge, postingan panitia pelaksana (Bp. Soemarmo) 

Gelas dan Waktu

Di sebuah artikel yang berkembang dari milis ke milis, khususnya yang terkait dengan motivasi, pengembangan diri, dan sebangsanya, sebuah cerita menghubungkan antara pasir, batu, air dan gelas. Cerita itu memberikan ilustrasi bagaimana caranya mengisi gelas dengan pasir, batu dan air tanpa meninggalkan tumpahan-tumpahan yang tidak diperlukan.

Caranya sederhana ternyata. Batu dimasukkan terlebih dahulu, kemudian diisikan pasir yang akan mengisi rongga-rongga yang disisakan batu, dan terakhir baru dimasukkan air yang mengisi ruang gelas tersisa, ruang yang diberikan oleh batu dan pasir. Jangan mencobanya dengan urutan terbalik, karena bongkahan batu yang dimasukkan terakhir malah akan menghasilkan tumpahan yang tercecer melewati bibir gelas.

Cerita yang menarik meski saya sendiri tidak pernah mencoba secara langsung. Cerita itu menitipkan pesan bahwa gelas adalah ibarat ruang waktu yang terbatas yang kita punyai. Sedangkan batu, pasir dan air adalah pemisalan atas aktivitas-aktivitas yang kita jalani dalam ruang waktu tertentu. Bila kita salah mengisi sang gelas, maka kita hanya menemui tumpahan-tumpahan yang tercecer manakala gelas telah terlanjur terisi. Kita harus menempatkan batu, pasir dan air sebagaimana proporsinya.

Di kehidupan nyata, batu, pasir dan air itu adalah prioritas peruntukan sang waktu untuk apa. Bisa jadi berarti keluarga, pekerjaan, kegemaran, kecenderungan bermasyarakat dan bernegara, serta waktu untuk pribadi. Sedangkan sang gelas adalah 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 52 minggu dalam setahun. Sang gelas bagi semua orang tentu saja berukuran sama, tetapi bagaimana kita memasukkan batu, pasir, air dan apa saja yang ingin dimasukkan ke dalamnya bisa jadi berbeda dan memproduksi hal yang berbeda. Sebagian orang memetik keberhasilan atas gelas-gelasnya, sedangkan sebagian yang lain menyesali gelas-gelas yang tumpah.

Semoga kita tidak salah memilih benda apa yang akan kita masukkan ke dalam gelas, dan dengan urutan yang seperti apa. Tiada guna kita menyesali tumpahan terjadi manakala bibir gelas telah penuh.

***

Waktu memang berlalu sedemikian cepat. Tak terasa 24 jam kita hamburkan untuk apa. Tak terasa pula penanggalan telah berganti sedemikian rupa. Managemen waktu secara sederhana adalah bagaimana kita memilah benda yang hendak kita isikan ke dalam gelas dan dengan urutan yang seperti apa. Kesadaran atas hal ini jauh lebih penting dibandingkan alat bantu yang biasa digunakan: PDA, agenda, penanggalan, bahkan kehadiran sekretaris pribadi sekalipun.

Berusaha untuk terus tersadar adalah jauh lebih penting. Saya pun  menuliskan artikel ini sebagai upaya untuk tetap tersadar karena meski gelas-gelas telah bertumpahan, tetapi kita akan tetap memiliki gelas-gelas kosong yang harus kita isi.

[kkpp, 08.02.2008]

Siapa yang Sebenarnya Sakit?

Beberapa hari ini kita disibukkan oleh liputan media mengenai kabar dari Presiden Soeharto yang tengah sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Tidak hanya media cetak dan televisi, bahkan di berbagai milis pun bertebaran hal yang sama. Bahkan karena porsi liputannya sedemikian besar, maka bahasannya pun jadi cukup lebar. Mulai dari tinjauan kesehatan serta siapa-siapa saja yang menjenguk -mulai keluarga, bekas pejabat dan pejabat, ulama dan mantan kepala negara tetangga, dan siapa saja yang butuh popularitas mendadak.

Belum lagi bahasan perlu tidaknya kasus Suharto dilanjutkan atau tidak, perbandingan antara masa akhir Presiden Soekarno menjelang wafatnya dan kondisi yang dialami sekarang oleh Soeharto, bahkan hingga ke hal-hal yang remeh tapi seolah menjadi penting: fasilitas apa yang didapat Soeharto di ruang RSPP yang di-upgrade habis-habisan hingga persiapan apa yang disiapkan oleh perangkat makam keluarga Soeharto.

Luar biasa benar bagaimana media menyorot peristiwa ini. Saya sungguh mual. Bukankah sejak jaman tugas akhir saya dulu, soalnya sakitnya Soeharto sudah memasuki ruang sidang tugas akhir saya tanpa disangka-sangka? (baca di sini). Padahal itu sudah lebih sembilan tahun yang lalu? Selama sembilan tahun itu pula kasus Soeharto tak pernah mendapatkan hal yang serius meski berganti Presiden, berganti Jaksa Agung, dan malah telah menjadi TAP MPR. Lantas mengapa harus ribut sekarang, saat yang bersangkutan tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dengan berbagai selang berseliweran, dengan berbagai alat medis digunakan? Kemana aja, mereka yang ribut itu selama ini? Niat ndak sih, mereka menyelesaikan kasus Soeharto?

Saya benar-benar mual. Terlebih saat mendengarkan himbauan dari pejabat dan bekas pejabat agar rakyat Indonesia memaafkan beliau plus diembel-embeli label “Tuhan lho, Maha Pengampun”… Duh, kita memang sakit. Memaafkan dan meminta maaf adalah masalah kelapangan hati dan keluasan nurani. Dari mana ada maaf, bila permintaan maaf itu masih terasa pongah tak merasa bersalah, malah mendulukan jasa-jasa …

Dan saya sungguh mual, membaca media yang kebanyakan memberitakan berita itu, sebagaimana mualnya saya manakala saya kebanyakan minum kopi

[kkpp, 14/01/2008, di surabaya siang yang temaram]

Lokasi Bermain Bridge

Di Indonesia, meski bridge termasuk salah satu olahraga berkelas dunia selain bulutangkis dan tinju, mencari tempat untuk berlatih adalah salah satu problem tersendiri. Kita mungkin sering melihat orang bermain catur di pinggir jalan, namun tak bakalan kita melihat orang bermain bridge di pinggir jalan. Bisa-bisa malah kita menjadi bahan tangkapan polisi yang kurang kerjaan menangkapi orang bermain kartu dengan tuduhan berjudi yang sungguh tak berdasar.

Kendala lainnya adalah bila catur cukup dimainkan berdua, sementara bridge harus dimainkan sekurangnya berempat. Bila ingin mendapatkan kualitas permainan, sekurangnya kita harus main berdelapan. Jadi, jauh lebih mudah untuk bermain catur, cukup punya satu kenalan, sudah bisa membuka papan. Sementara untuk bridge, agar bisa bermain Anda harus punya komunitas, tidak cukup dengan hanya seorang kenalan saja. Apalagi orang yang bisa bermain catur jauh lebih banyak daripada yang bisa bermain bridge. Karena itu, di sisi yang lain, bermain bridge memaksa kita untuk bisa berkomunitas.

Dengan kendala-kendala seperti itu, tak salah bila banyak kawan pemain bridge yang kemudian jatuh cinta untuk bermain bridge secara online di www.bridgebaseonline.com atau yang lebih dikenal dengan BBO. Selama kita punya koneksi ke internet, kapanpun dan dimanapun kita bisa bermain bridge. Tak usah khawatir dengan kekurangan kawan, malah kita bisa mendapatkan kawan baru di sana. Pun kita bisa berkomunikasi karena dilengkapi fasilitas chatting.

Namun meski demikian, bagi sejumlah pemain bridge, kenikmatan bermain online belum bisa menggantikan bermain bridge secara biasa. Karena itu mereka sering mencari dimana lokasi bermain bridge.

Di Surabaya, lokasi bermain bridge yang legendaris adalah bertempat di Balai Sahabat Surabaya di jalan Genteng Kali sebelum Siola. Biasanya main saban Selasa tiap 19.30 s.d 23.00 wib. Atau kalau mau, silahkan bergabung di latihan rutinnya Perkumpulan Bridge (PB) Angka Bridge Family (dulu dikenal PB ITS). Biasanya latihan digelar tiap Jumat malam, lepas maghrib hingga selesai (hehe, kadang bila lagi semangat bisa selesai dini hari) di kantin pusat kampus ITS. Bila tidak ada halangan, saya selalu ada di sana bersama kawan-kawan UKM Bridge ITS.

Di Makassar, seorang pemain yang bertemu di suatu ajang menginformasikan bahwa mereka biasa bermain di Gedung Mulo, jl. S. Saddang (perempatan Jl. Sudirman) tiap Sabtu/Minggu jam 14.00 waktu setempat.

Anda punya informasi lainnya? Monggo ditambahkan …

[kkpp, 19/12/07]

Liga Patkawan GBS 2007-2008 seri I: Intan Digdaya

Meski sempat diwarnai ketidakpastian, akhirnya Liga Patkawan GBS (Gabungan Bridge Surabaya) periode 2007-2008 seri I yang diselenggarakan 1-2 Desember 2007 di Mall BG Junction (ex Wijaya) menempatkan team Intan II sebagai juara. Bermaterikan pemain-pemain senior Surabaya, termasuk diantaranya tokoh bridge Jawa Timur, Pur Byantara, Intan II kokoh di puncak menyisihkan 10 team lainnya dengan 222 VP dari 11 ronde.

Dari 11 ronde round robin dengan satu kali ronde bye karena hanya 11 team yang bertanding dari seharusnya 12 team, Intan II mencatat 9 kali kemenangan dan kekalahan hanya dialami di ronde pertama saat bertemu team satu klub, Intan I, 10-20 VP. Setelah ronde itu, Intan II terus mencatat kemenangan, dengan empat diantaranya mendapatkan angka sempurna, 25 VP.

Sedangkan di peringkat kedua dan ketiga adalah Perbankan B (211 VP) dan Perbankan A (198 VP). Menyusul PAL (182), Intan I (159), Universitas Widya Mandala (158), ITS (151), Unair (149), Telkom (143), Ubaya (127) dan Puslatcab (85).

Bagi team Perkumpulan Bridge (PB) ITS, yang menurunkan pasangan Kurnia/Badrus Syamsi, Nur Khasanah/Noviana Tri, dan pasangan baru Musthofa Fahmi/Firman sebagai juara turnamen internal PB ITS, mengawali turnamen dengan bertemu team PAL dan mengalami kekalahan 8-22 VP. Kekalahan juga dialami dari Perbankan B secara telak, 0-25 VP. Serta kekalahan ketiga dari Sang Juara, Intan II, 14-16 VP. Sejumlah partai berlangsung draw, 15-15 VP yaitu saat melawan Unair, Puslatcab dan Telkom. Sedangkan lainnya mencatat kemenangan tipis saat melawan UWM (17-13), Perbankan A (17-13) dan Ubaya (19-11). Sedangkan saat melawan Intan I, terjadi kekacauan karena hasil dari dua meja yang bertanding di open room dan close room, tidak dapat dibandingkan karena masing-masing team sama-sama duduk di arah yang sama. Walhasil, kedua team harus puas dengan score 14-14 VP.

Menurut edaran dari GBS, turnamen ini dimaksudkan untuk menambah ruang bagi klub sebagai basis pembinaan atlet untuk mengembangkan diri serta untuk memupuk partnership. Muaranya tentu saja adalah untuk eksistensi bridge Surabaya dan Jawa Timur di pentas bridge nasional, mengingat sepanjang tahun 2007 ini, baik tim GBS maupun Jawa Timur gagal di ajang Kejurnas Antar Kota dan seleksi untuk mengikuti PON 2008.

Sebagai bagian dari rencana GBS tersebut, Liga Patkawan ini diselenggarakan secara berselang dengan Liga Pasangan yang juga telah diselenggarakan terdahulu pada tanggal 27-28 Oktober 2007 di tempat yang sama. Seharusnya GBS mensyaratkan pasangan yang tetap sepanjang musim, namun untuk penyelenggaraan Liga Patkawan Seri I ini masih ada toleransi bagi team/klub yang belum memiliki pasangan tetap.

Sementara itu, Liga Pasangan seri I menempatkan pasangan Raf. Radiant/Hari Yulianto (ITS) sebagai juara disusul Soni/Yusron (PAL) dan M. Iqbal/Sentot (Telkom) sebagai runner up dan juara ketiga.

[kkpp, 03.12.07]

Petisi Dukung Rafa

Entah mengapa tiba-tiba ada perselisihan antara manager dan pemilik Liverpool yang menjadi konsumsi publik. Saat mendengarnya beberapa waktu yang lalu muncul di media nasional, saya hanya menganggapnya sampah. Tak pernah ada cerita begitu bagi kami. Beda banget dengan klub-klub yang lain.

Saya masih saja menganggap berita itu sebagai sampah. Meski hingga gameweeks 14 minggu kemarin, Liverpool memang berada di luar empat besar, namun  dengan sisa 1 pertandingan (Liverpool baru memainkan 13 pertandingan), adalah mungkin Liverpool berada selangkah di belakang The Gunners. Bahkan sama-sama belum terkalahkan di Liga Premier. Peluang di UCL pun belum tertutup, pun halnya di pertandingan Carling dan FA Cup.

Jadi saya masih menganggap kemungkinan Rafa keluar dari Anfield, sebagaimana JM di Chelsea, adalah omong kosong. Hingga akhirnya saat main ke sini,  saya mendapatkan link yang menuju ke situs petisi online  yang ditujukan ke pemilik Liverpool, duo Amerika, George Gillet dan Tom Hicks agar mempertahankan Rafa sebagai Manager The Reds.

Lantas saya mencermati tiap kata, saya kaget, dan mulai percaya bahwa sampah itu adalah hal yang nyata. Tanpa berpikir panjang saya turut dalam petisi itu. Saya pun menjadi orang ke 10.047, satu jam yang lalu, dan kini angka penandatangan petisi terus bertambah menjadi 11.095.

Anda ingin bergabung dalam petisi itu?

(andai ada yang menggagas petisi online untuk membubarkan pssi, eh, membersihkan pssi dari nurdin halid dan pendukungnya, serta merta saya bergegas turut larut di dalamnya)

[kkpp, 27/11/07]

Sikap Politik Sang Juara

Pernahkah kita membayangkan, Taufik Hidayat, jagoan bulutangkis Indonesia saat mengangkat Piala Thomas suatu hari nanti akan mengusung spanduk: “Gantung Koruptor!” atau “Adili Suharto” atau spanduk sejenis lainnya?

Pernahkah kita membayangkan Chris John saat memenangkan sabuk juara dunia tinju malah mengibarkan spanduk: “Adili Habibie – Kembalikan Timor Timur ke Pangkuan Ibu Pertiwi”?

Pernahkah kita membayangkan warganegara Indonesia yang karena jerih keringat perjuangan di medan olahraga, mampu mengibarkan Sang Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di puncak tertinggi capaian seorang atlet: Juara Dunia: namun di saat penuh haru itu menunjukkan sikap politiknya?

Bagi kita mungkin jarang kalau dibilang malah tidak pernah. Karena yang sempat mencapai supremasi dunia di cabang olahraganya, hanyalah sedikit dari atlet Indonesia. Bahkan bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja.

Tapi rasanya perasaan itu kini tengah melanda rakyat Amerika. Bagaimana tidak, saat malam penyerahan penghargaan kepada para juara “The 2007 World Bridge Championships” di Shanghai, China, 29 September hingga 13 Oktober 2007, team AS 1, Sang Juara Venice Cup ke-14 membawa papan bertuliskan “We Did Not Vote for Bush”. Bila pengin tahu fotonya, silahkan berkunjung ke sini dan ke sana.

Kejadian ini menimbulkan pro kontra di kalangan bridge dan juga bagi masyarakat Amerika. Bagi Ms. Gail Moss Greenberg, yang bertindak sebagai NPC (non-playing-captain) team juara itu, sikap itu adalah jawaban bagi atlet dari negara lainnya. Menurutnya, team AS sering mereka menerima pertanyaan dari rekan pemain bridge negara lain tentang sikap politik AS. Lantas, mereka ingin menunjukkan bahwa tak semua warga Amerika menyetujui langkah Presidennya.

Meski sempat diancam akan diberi sangsi, mulai larangan bertanding hingga kerja sosial, kasus ini lantas berakhir tanpa hukuman. Meski demikian, seperti dikutip dari situs New York Times, bagi team yang beranggotakan Jill Levin, Irina Levitina, Jill Meyers, Hansa Narasimhan, Debbie Rosenberg, Joanna Stansby dan Gail Greenberg (npc), sebagai gantinya memberikan pernyataan pengakuan bahwa bagi tim yang mewakili negara, seharusnya upacara penganugerahan hadiah tak digunakan untuk hal lainnya.

Saya jadi teringat kasus yang menimpa Michael Jordan beberapa tahun yang silam. Saat di upacara penganugerahan penghargaan, ada konflik antara sponsor kejuaraan dan pihak yang menjadi sponsor pribadi Michael Jordan. Lantas sang Maestro memilih menggunakan produk sponsor pribadinya namun menutup logo sponsor dengan bendera negara.

Lantas adakah kejadian ini berarti bagi kita? Mudah-mudahan Juara Dunia dari Indonesia di kemudian hari terus dilahirkan. Dilahirkan dengan talenta serta kesadaran untuk memilih tempat dan waktu yang tepat bagi Sang Juara untuk mengekspresikan sikap politiknya dilakukan tanpa melukai dukungan dan doa dari segenap penggemar dan rakyat dari penjuru negeri.

[kkpp, 22/11/07]

%d blogger menyukai ini: