Indonesiana

Pesta Siapa?

April Dua Ribu Sembilan. Hari kesembilan. Sebuah titik bagi demokrasi Indonesia telah berlalu. Rakyat Indonesia sebagai pemilik kedaulatan tertinggi memberikan kedaulatannya untuk Pemilihan Legislatif di semua tingkat untuk periode 2009-2014. Sebuah warna tersendiri.

suasana di tps di sidoarjo

Hiruk pikuk kegaduhan untuk memenangkan hati rakyat, dengan banyaknya baliho, poster, bendera dan aneka media promosi lainnya, -yang didukung dari berbagai warna partai, dengan sejumlah jargon plus tampang manis ribuan caleg kini berganti kegaduhan pasca hari kesembilan itu. Bermodalkan klaim sekian persen dukungan rakyat, elit partai sibuk mencari kawan baru. Di sisi yang lain, sang penyelenggara kian menunjukkan kinerja yang bisa dikatakan buruk. Sorotan media cetak dan televisi seolah tak cukup berarti. Padahal hal yang paling mendasar justru terlupakan. Dimana hak rakyat sebenarnya?

Ternyata hak rakyat untuk menentukan pilihan dikebiri oleh carut marutnya DPT. Penggelembungan dan manipulasi suara adalah khianat terhadap pemilik pesta seharusnya: rakyat. Buat apa capek-capek mencelupkan jari dengan tinta penanda bila kemudian hasil akhir telah direkayasa. Buat apa kemudian diliburkan bila rakyat hanya menikmati libur sehari dua tanpa dapat menikmati hasil akhir yang berpengaruh untuk lima tahun mendatang. Buat apa kemajuan teknologi IT justru tak meningkatkan kinerja penyelenggara. Buat apa sekian trilyun rupiah terbuang, bila hasil akhir tidak mencerminkan keinginan rakyat sesungguhnya.

Pada hari kesembilan bulan April Dua Ribu Sembilan itu, rakyat memang berkuasa untuk memilih caleg pilihannya tanpa khawatir bila pilihannya itu ada pada nomer buncit. Tapi rakyat sungguh tak kuasa bila para elit partai caleg pilihannya itu memilih berkasak kusuk dengan partai sebelah yang sungguh tak diharapkannya. Mengapa sang elit tidak mempromosikan sedari awal bahwa mereka bakal berkoalisi dengan partai A ataupun partai Z. Atau mengapa mereka tidak bergabung saja sejak awal. Partai lebih sedikit. Biaya lebih sedikit. Rakyat lebih jernih memilih. Tapi mereka (sungguh) pusing tak kebagian pesta.

Ah, siapa yang peduli itu semua?

kkpp # 05 Mei 2009

Standar
Indonesiana, Sepakbola

Surat untuk Penguasa Sepak Bola

Dari seorang nawak, yang kenalnya dari dunia cyber dan lantas jadi arodes dan beberapa kali nonton bareng di stadion, berikut ini adalah surat yang ditulisnya, dan telah dikirimkan ke berbagai redaksi media massa nasional, dan ditembuskan berbagai milis. Semoga menjadi bola salju untuk perubahan sepakbola nasional!

Kepada Yang Terhormat
Penguasa Sepak Bola Indonesia

Kami ini hanyalah kelompok masyarakat yang membutuhkan hiburan untuk menyatukan diri sebagai satu saudara. Kami ini hanyalah kelompok masyarakat yang selalu ingin damai dan sejahtera. Kami hanyalah kelompok masyarakat yang ingin melihat sepak bola berjalan dengan sportifitas dan fairplay.

Kejadian Sabtu malam lalu di stadion kanjuruhan, kami akui kami salah. Saat ini kami mengaku salah berbuat anarki, namun ini adalah ujung dari rasa sabar kami. Tidak benar memang, salah iya, harus dihukum, Harus!!! Kami tak akan meminta bebas dari hukuman. Hukum saja kami jika memang salah. Kami siap menjalaninya. Namun yang adil, yang bijaksana, jangan karena Anda membawa palu main ketuk seenaknya.

Lihat dulu, pelajari dulu, bersikap objektif itu perlu. Jika kami ini salah bagaimana dengan yang memicu kami berbuat salah? Hukum juga dong. Jangan hanya kami. Jangan hanya main hokum, selidiki dan tuntaskan ada apa di balik mereka (WASIT) melakukan itu. Kami rela jadi martil sebuah perubahan. Kami rela dijadikan korban untuk sesuatu yang lebih baik. Namun kami tak pernah rela sportifitas dan fairplay tercederai. Ayo kita instropeksi. Sudah benarkah Anda, pemegang regulasi sepak bola memberikan sisi edukasi kepada kami penikmat dan supporter serta masyarakat sepak bola Indonesia?

Apa yang anda harapkan dari Indonesia Super League? Hanyakah kompetisi berebut juara atau ada visi yang jauh lebih mulia lagi. Adakah hasil tertulis dari penyegaran wasit? Dimanakah diumumkan? Siapa yang memberikan test kepada mereka? Sudah independent-kah badan itu? Kasus semacam ini sudah berulang kali terjadi, tapi klub, supporter, merekalah yang langsung merasakan hukumannya yang jelas terlihat di mata pecinta bola tanah air. Sedang wasit? Jika ini masalah SDM Wasit dengan segala bentuk lingkungan yang membentuknya, akankah selalu kami kaum penikmat sepak bola ini yang selalu menjadi terhukum? Anda para penguasa sepak bola tanah air pernah berucap kepada kami,”Jangan main hukum sendiri offisial pertandingan, serahkan kepada kami sesuai mekanismenya,” Tapi kami tak pernah lihat transparansi penyelesaian dan pengungkapannya. Semuanya hanya berujung pada sanksi sejumlah nominal (selalu saja berbuntut materi).

Kami bisa jamin, sepak bola Indonesia tak akan bisa maju selama PILKADA-PILKADA selalu mengikutinya. Sepak bola Indonesia akan kehilangan sportifitas dan fairpalynya jika sudah menjadi bagian dari cara branding bagi person yang akan menjadi penguasa. Penguasa yang terhormat, kesabaran manusia ada batasnya. Kepada masyarakat sepak bola Indonesia jangan tiru apa yang sudah terjadi di Bumi Singo Edan. Biarkan kami saja yang merasakan, kalau perlu biar kami saja yang jadi MARTIL perubahan.

Kami minta maaf jika sudah memberikan contoh yang tidak baik, kami minta maaf jika sudah memberikan tontonan yang kurang atraktif. Bagi saudara kami PKT Bontang, maaf jika sudah membuat kalian kurang nyaman. Jangan jadikan ini sebagai pembenaran balas dendam. Sebab musuh kami bukanlah kalian, bukan klub atau tim lain. Musuh kami adalah ketidakadilan dan sikap anti fairplay. Kalian sama dengan kami. Kalian adalah korban dari sistim yang berjalan. Ayo kita gandeng tangan, bikin satu perubahan. Apa yang sudah kami lakukan memang bukanlah pembenaran untuk melakukan perubahan.

Demikian surat terbuka ini kami buat, kepada teman-teman Pers jangan hanya diangkat peristiwanya. Beritakanlah penyebabnya. Berikan sisi edukasi bagi sesama. Kami tahu berita kami selalu meningkatkan oplah. Terima kasih sudah buat nama kami besar, hingga kami merasa sakit saat jatuh. Namun kami tetap Arek-Arek Malang yang selalu tegar diterpa jaman. Sampai kapanpun kami tetap mendukung SINGO EDAN. Meskipun kami sebagai terhukum.

Atas Nama Komunitas satujiwa.net
Pendukung PS Arema dari Dunia Cyber
Salam Satu Jiwa

Standar
Bisnis, Indonesiana, Marketing, Sepakbola

Jay

Bagi banyak orang, “jay” banyak digunakan sebagai nama panggilan yang gaul. Entah nama panjangnya Zainal, Sanjaya, Jaelani, ehm… apalagi ya. Menurut kamus Inggris-Indonesia, “jay” adalah kata benda yang merujuk salah satu jenis burung yang ribut bunyinya.

Sementara di kolom majalah Marketing terbitan Mei 2007, Handi Irawan menulis tentang “Jay Customer“. Menurutnya, jay customer adalah adalah istilah yang digunakan bila konsumen sudah memperlihatkan perilaku yang merugikan orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah para konsumen yang suka berbohong. Misalnya mencuri umur untuk mendapatkan tiket menonton bioskop pun juga untuk tiket pesawat. Atau juga mengaku sebagai seseorang untuk mendapatkan fasilitas sebuah klub atau perkumpulan. Perilaku yang sering ditemui lainnya adalah berbohong untuk mendapatkan garansi atau untuk klaim asuransi kendaraan.

Selain berbohong, Handi Irawan juga mengkategorikan jay customer untuk perilaku mencuri dan merusak. Perusahaan yang sering mengalami kerugian karena hal ini adalah PLN, peritel besar, KAI, perusahaan penerbit kartu kredit, perbankan, operator telepon seluler, penyelenggara acara musik dan olahraga. Perilaku tersebut tampak di sekeliling kita. PLN misalnya, pencurian listrik tidak saja dilakukan oleh konsumen kecil namun juga konsumen besar. Tak jarang pula kita menemui beberapa orang yang tampak tidak bersalah ketika menunggak sejumlah besar tagihan kartu kredit tanpa susah untuk mendapatkan kartu ketiga, keempat dan seterusnya.

Handi Irawan yang saat menulis kolom itu masih menjabat sebagai Chairman Frontier Consulting Group mengkorelasikan bahwa jay customer terkait dengan perilaku masyarakat yang tidak tertib dan egois. Karenanya banyak perusahaan di Indonesia yang sedang dan berpotensi menghadapi jay customer ini.

Bagi perusahaan yang tengah berusaha meningkatkan pelayanannya, jay customer yang tidak tertangani justru malah membuat perusahaan menjadi apatis. Di tengah krisis listrik, nilai kerugian PLN akibat tindak jay customer ini cukup signifikan. Sehingga saat PLN berkeinginan untuk menaikkan harga jual listrik banyak ditentang berbagai kalangan dengan alasan bila PLN dapat menangani kerugian karena listrik hilang, kenaikan harga tidak perlu dilakukan.

Di bisnis perbankan, kenaikan jay customer ini memunculkan bisnis debt collector yang kian subur. Sementara bagi peritel besar, mengalokasikan 2% sebagai biaya ongkos kehilangan stok. Bagi KAI, jay customer menyebabkan sulitnya pengembangan perusahaan akibat banyaknya penumpang gratisan serta keengganan potential customer melirik moda transportasi kereta api yang terlihat kumuh. Sedangkan di bisnis asuransi, jay customer menyebabkan tingkat kepercayaan perusahaan kepada customer rendah akibat memukul rata bahwa semua customer adalah jay customer padahal perilaku itu juga ditunjang oleh salesperson yang takut kehilangang pelanggan.

Memang situasi yang cukup sulit bagi perusahaan. Namun penanganan yang benar justru akan menyebabkan pertumbuhan bisnis. Beberapa tahun yang lalu, sepakbola Inggris menghadapi sejumlah besar kerugian akibat hooligan, yang dapat dikategorikan sebagai jay customer. Suporter yang sering berbuat rusuh, merusak sejumlah fasilitas, dan aksi vandalisme lainnya ditangani dengan baik. Hasilnya kini Liga Inggris tumbuh menjadi Liga utama yang menjadi impian pemain berbakat di seluruh dunia dan menjadi bisnis yang tumbuh dengan menggiurkan yang mampu mengundang sejumlah investor asing.

Untuk menghadapi jay customer, Handi Irawan menawarkan agar perusahaan menghindari customer yang berkategori buruk tersebut karena tidak akan memberikan laba bagi perusahaan. Karenanya, perusahaan harus mampu mendeteksi dan mempelajari calon pelanggan. Perusahaan juga harus melakukan edukasi dan mampu mengkomunikasikannya. Serta yang terakhir, bagaimana perusahaan bisa menegakkan aturan tetapi tidak menjadi perusahaan yang birokratis.

Sebagai penutup, Handi Irawan menyampaikan bahwa penggunaan teknologilah cara ampuh meminimalkan jay customer, karena semua sistem yang serba manual memberikan peluang besar bagi pelanggan untuk berperilaku tidak tertib dan bertindak layaknya jay customer.

Bila Indonesia adalah perusahaan, mampukah pemerintah menangani jay customer-nya? Bagaimana menurut Anda?

[kkpp, 10.06.08]

Standar
Bahasa, Indonesiana

Nylimur

Nylimur memang bahasa Jawa. Arti bebasnya sih adalah mengalihkan perhatian, mengalihkan pokok pembicaraan sehingga hal utama yang sedang menjadi bahasan terlupakan. Biasanya sih dipakai anak-anak manakala ditanyakan tentang sesuatu hal yang dirasa memojokkannya. Anak saya yang belum genap empat tahun misalnya, saat ditanya siapa yang mencoret dinding, serta merta kemudian nylimur dengan bercerita keinginannya memelihara kelinci. Begitu halnya anak teman sekantor yang seumuran dengan anak saya bila ditanya apakah mau makan apa misalnya, jadinya malah nylimur bercerita tentang mobil bagus yang tengah lewat di jalan.

Sindrom nylimur ini ternyata tidak hanya menjangkiti anak-anak. Beberapa orang dewasa pun ternyata mengidap kebiasaan yang sama. Ketidakmampuan menghadapi pokok permasalahan dialihkan dengan harapan sang audiens akan terlupa pada pokok permasalahan. Bila sang audiens tipe pelupa, atau tipe yang suka larut dalam perbincangan, atau tipe yang tidak fokus pada permasalahan, trik nylimur ini sering berhasil.

Seorang rekan di kantor, bila mendapatkan komplain dari customer, sering menggunakan trik ini. Tekniknya adalah dengan mengetahui benar pokok-pokok apa yang menjadi kesukaan sang pengomplain, sehingga bisa dengan mudah berkelit dari pokok yang dipermasalahkan. Bila tahu benar, seringkali trik ini berhasil dan komplain pun redam dengan sendirinya. Kadang sih tidak berhasil. Tapi tak ada salahnya untuk dicoba. Hehehe.

Dan ternyata bila diperhatikan, kita pun adalah bangsa yang suka nylimur dan di-slimurkan. Contoh sederhana adalah apa yang terjadi pada hari Minggu (1/6) yang lalu. Aksi kekerasan yang dilakukan FPI pada massa aksi yang dilakukan oleh Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang kemudian disebut http://www.kompas.com sebagai Tragedi Monas, kemudian banyak di-slimur-kan dengan isu pembubaran Ahmadiyah, dan juga isu Islam versus Pluralisme. Padahal, terlepas perdebatan panjang tentang isu-isu lain yang terkait, masalahnya sebenarnya sederhana: perbedaan pendapat bukanlah seharusnya dilakukan dengan kekerasan. Titik. Atau dengan kata lain: penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan bukanlah sebuah cara yang seharusnya dipilih bangsa ini.

Bila Anda tak suka tawuran antar pelajar dan merasa ngeri pada saat berada di antara dua kelompok yang saling lempar batu tersebut, tentunya bisa menerima klausul tadi (baca: kekerasan bukanlah cara yang diambil untuk menyelesaikan perselisihan) terlepas apa penyebab tawuran antar pelajar itu (bisa jadi karena rebutan pacar, rebutan angkot, kalah main bola, dan sejuta penyebab lain yang bisa terkait).

Dalam konteks nylimur itu tadi, bagi penyuka teori konspirasi, jangan-jangan aksi hari Minggu itu adalah salah satu cara pemerintah untuk nylimur dari demo-demo menentang kenaikan BBM, yang belakangan pemerintah kewalahan menanganinya, bahkan upaya nylimur dengan melakukan penggerebekan Bea Cukai oleh KPK pun tidak cukup untuk mengalihkan perhatian.

Bagi media, budaya nylimur ini pun lebih menarik dibandingkan dengan terus mencermati kejadian yang telah berlalu. Bagi mereka, selama bisa jualan sesuatu yang panas, buat apa menjual yang sudah dijajakan kemarin.

Ah, nylimur, nylimur. Ada yang tahu padanan katanya dalam bahasa Indonesia apa?

[kkpp, 05.06.08]

Standar
Indonesiana, Kisah Kehidupan

Malam ini Sepuluh Tahun yang (ber)Lalu

Malam ini sepuluh tahun yang lalu, jatuh pas selasa malam, malam rabu.

Masih ingatkah, Kawan, ada di mana kita dan apa yang tengah kita lakukan?

Baru saja, seorang kawan yang telah berpisah jarak, sengaja menelepon dari telepon genggam -teknologi yang masih mahal sepuluh tahun yang lalu, bandingkan dengan mahasiswa kini yang tidak cukup dengan satu ponsel yang dipunya- menanyakan apakah ada peringatan yang tengah kita persiapkan.

Tidak, jawab saya ringkas. Buat apa merayakan kegagalan. Sepuluh tahun sudah berlalu, mimpi Indonesia yang lebih baik tak kunjung mewujud. Reformasi yang diagendakan entah kini jadi bermakna apa.

Malam ini sepuluh tahun yang lalu. Kantin ITS terasa hiruk pikuk. Meja dan kursi yang ada tak menyisakan ruang. Wajah-wajah penuh semangat bersliweran. Yang baru kenal atau kenalan lama. Yang kenal luar dalam atau yang hanya tahu wajah tanpa kenal nama.

Sedangkan setahun terakhir kantin terasa lengang. Hanya beberapa pasang yang lagi mojok. Lebih ramai pas arek bridge mulai berlatih lagi. Kadang juga diramaikan oleh ormek, yang sepuluh tahun lalu tak bernyali untuk buka forum secara terang-terangan di kantin.

Ya, sepuluh tahun telah berlalu. Banyak hal telah berubah. KAMI pun berusia sepuluh tahun, bila malam ini masih eksis. Masih relevankah kehadirannya kini? Masih perlukah Komite Aksi bila tak ada aksi?

Malam ini sepuluh tahun sudah berlalu. Sang Penguasa Orde telah berpulang menghadap Sang Maha Kuasa. Beberapa kawan yang sepuluh tahun lalu turut ada dalam hari-hari terpanas rezim, juga telah mendahului kita untuk menghadap Sang Maha Kuasa. (Indri n Ember: kalian senantiasa ada)

Sementara kita hanyalah antri di belakang menunggu waktu. Akankah kita menunggu waktu tanpa berbuat sesuatu? Melupakan apa yang pernah kita teriakkan sepuluh tahun yang lalu. Membuang jauh-jauh apa yang pernah kita citakan dalam berbagai rapat merencanakan aksi sebagaimana malam ini sepuluh tahun yang lalu?

Sepenuh hati saya percaya, kawan-kawan yang aktif di milis ini (baca: milis kumpulannya bekas pelaku aksi 98an), kawan-kawan yang senantiasa bercerita melalui blog masing-masing, kawan-kawan yang berkisah dengan antusias tentang aktivitasnya kini manakala bertemu, masih mengingat malam ini sepuluh tahun yang lalu. Sepenuh hati saya percaya, sendiri atau bersama mereka masih berjuang mewujudkan Indonesia yang dicitakan dengan cara yang berbeda-beda.

Dan malam ini saya ikhlas, perayaan sepuluh tahun malam ini diperingati dengan melupakan bahwa masih ada mahasiswa yang bergerak dengan semangat malam ini sepuluh tahun yang lalu. Tak perlu lagi berharap masih ada adik-adik yang bakal melanjutkan tapak-tapak yang pernah kita buat. Tak perlu lagi memaki mereka, karena tak ada lagi hubungan yang menautkan malam ini dengan malam ini sepuluh tahun yang lalu.

[kkpp, Sidoarjo, 19 Mei 2008. Pernah diposting di sebuah milis terbatas]

Standar
Agenda, Aremania, Indonesiana, Sepakbola

Undangan Demo Revolusi PSSI di Bundaran HI

Atas nama solidaritas mendukung upaya memperjuangkan perubahan PSSI, maka dengan sengaja saya mem-posting ulang undangan untuk demo mendukung perubahan PSSI sebagaimana email yang saya dapatkan dari seorang nawak.Meski saya terpisah jarak, hati dan jiwa saya bersama mereka yang masih bisa melihat: mana yang benar dan mana yang salah. Satukan hati, satukan tekat: REVOLUSI PSSI!! 

Berikut adalah kutipan undangan itu: Sehubungan dengan Ancaman FIFA untuk membekukan persepakbolaan Nasional dan carut marutnya kepengurusan PSSI, di berbagai media, cetak maupun elektronik maupun wacana berbagai milis, website, blog yang berkembang di kalangan para supporter, pecinta bola Indonesia, termasuk dari Pengurus Klub maupun Pengda banyak yang menginginkan REVOLUSI PSSI untuk menyelamatkan persepakbolaan Nasional, namun semuanya MENUNGGU dan menunggu.

Oleh karena itulah, memanfaatkan momen penting rencana pertemuan Menpora dengan AFC tanggal 26 Maret 2008 di Malaysia, Insan Pecinta Bola Indonesia yang dimotori oleh AREMANIA akan melakukan DEMO REVOLUSI PSSI di Bundaran HI.

Seperti kita ketahui, bahwa Statuta FIFA tidak membolehkan Pemerintah dalam hal ini Menpora untuk ikut campur menangani internal PSSI. Namun demikian, masih ada cela agar Menpora bisa masuk menangani carut marut persepakbolaan nasional, yaitu apabila AFC memberikan WEWENANGNYA kepada Menpora.

Untuk tujuan itulah, sebelum tanggal 26 Maret tepatnya :

Hari: Selasa, 25 Maret 2008

Jam : 10.00

AREMANIA bersama komponen Bola lainnya (Suporter, wartawan dan pecinta Bola Indonesia) akan demo besar-besaran di Bundaran HI Jakarta untuk menyampaikan bukti sekaligus membentuk Opini terhadap AFC dan FIFA, bahwa pecinta bola Indonesia sudah Tidak Percaya Lagi kepada Kepengurusan PSSI dan mengharapkan PEROMBAKAN TOTAL Kepengurusan PSSI.

Insya’allah misi suci ini akan menjadi pendorong bagi AFC untuk melimpahkan wewenangnya kepada Menpora untuk SEGERA melakukan MUNASLUB dan Mengganti Seluruh Kepengurusan PSSI yang sudah gagal Total memperpuruk persepakbolaan Nasional ini dengan kepengurusan baru yang lebih Profesional.

Untuk itulah, kami mengajak seluruh AREMANIA Jagad raya untuk mendukung gerakan ini dengan menggetuk-tularkan (menyampaikan) informasi ini kepada teman2 Suporter lainnya agar ikut dalam MISI SUCI REVOLUSI PSSI.

Kita Manfaatkan Momentum ini sebaik-baiknya. Kalau Tidak Sekarang kapan Lagi ? Kalau Tidak Kita Yang Melakukan Siapa Lagi ?

Salam Satu Jiwa,

Rachmad H

[kkpp, 24/03/08]

Update:

  • Ijin dari kepolisian sudah didapatkan namun tempatnya pindah ke Patung Kuda Monas / depan Indosat, dengan jam yang sama (diposting: 25/03/08 pk 09.00 wib)
  • Demo juga dilanjutkan ke kantor PSSI. Saat demo di Kantor PSSI, Pengurus PSSI mempersilahkan 6 (enam) orang perwakilan untuk masuk berdialog menemui Pengurus PSSI, namun PENAWARAN itu DITOLAK. Para pendemo tetap bernyanyi dan berorasi di luar. Akhirnya…., justru pengurus PSSI dipimpin Nugraha Besoes yang keluar menemui para pendemo untuk berdialog di luar. (diposting: 26/03/08 pk. 09.15 wib)

Standar
Indonesiana, Website

KBBI Online

Entah mengapa saya begitu menyukai bahasa Indonesia. Mungkin sejak saat saya di bangku sekolah dulu. Saat itu ada penugasan untuk melihat serta membikin ringkasan acara di televisi nasional yang khusus membahas mengenai “berbahasa yang baik dan benar”. Lantas saat mengetahui kesejarahannya hingga ketika menjadi mahasiswa secara sadar mengganti frase “… berbahasa satu, bahasa Indonesia” dalam sumpah pemuda menjadi “… berbahasa satu, bahasa kebenaran”. 

Dulu, saya hanya mampu menggapai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan Balai Pustaka itu hanya saat saya bermain di perpustakaan. Tak mampu saya mendapatkan KBBI yang diterbitkan pertama kali tahun 1988 itu secara pribadi.

Kini, alangkah senangnya saya ketika mendapatkan informasi yang di-sharing di milis alumni tentang KBBI Online yang dapat di-klik melalui alamat  http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/  

Saya sudah mencobanya dan mendapatkan bahwa KBBI daring itu memang cukup berguna. Tampilannya cukup ringkas dan tepat guna. Anda tinggal memasukkan kata yang Anda inginkan, dan beberapa saat kemudian apa yang Anda inginkan telah muncul di layar. 

Di halaman muka website itu, Dr. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, menyampaikan bahwa KBBI daring ini adalah berbasiskan KBBI edisi ketiga, edisi terakhir dari KBBI yang diterbitkan tahun 2001. Rencananya KBBI edisi keempat akan diterbitkan pada tahun ini. 

Selamat berbahasa Indonesia. 

[kkpp, 18.03.08] 

Standar
Indonesiana

Siapa yang Sebenarnya Sakit?

Beberapa hari ini kita disibukkan oleh liputan media mengenai kabar dari Presiden Soeharto yang tengah sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Tidak hanya media cetak dan televisi, bahkan di berbagai milis pun bertebaran hal yang sama. Bahkan karena porsi liputannya sedemikian besar, maka bahasannya pun jadi cukup lebar. Mulai dari tinjauan kesehatan serta siapa-siapa saja yang menjenguk -mulai keluarga, bekas pejabat dan pejabat, ulama dan mantan kepala negara tetangga, dan siapa saja yang butuh popularitas mendadak.

Belum lagi bahasan perlu tidaknya kasus Suharto dilanjutkan atau tidak, perbandingan antara masa akhir Presiden Soekarno menjelang wafatnya dan kondisi yang dialami sekarang oleh Soeharto, bahkan hingga ke hal-hal yang remeh tapi seolah menjadi penting: fasilitas apa yang didapat Soeharto di ruang RSPP yang di-upgrade habis-habisan hingga persiapan apa yang disiapkan oleh perangkat makam keluarga Soeharto.

Luar biasa benar bagaimana media menyorot peristiwa ini. Saya sungguh mual. Bukankah sejak jaman tugas akhir saya dulu, soalnya sakitnya Soeharto sudah memasuki ruang sidang tugas akhir saya tanpa disangka-sangka? (baca di sini). Padahal itu sudah lebih sembilan tahun yang lalu? Selama sembilan tahun itu pula kasus Soeharto tak pernah mendapatkan hal yang serius meski berganti Presiden, berganti Jaksa Agung, dan malah telah menjadi TAP MPR. Lantas mengapa harus ribut sekarang, saat yang bersangkutan tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dengan berbagai selang berseliweran, dengan berbagai alat medis digunakan? Kemana aja, mereka yang ribut itu selama ini? Niat ndak sih, mereka menyelesaikan kasus Soeharto?

Saya benar-benar mual. Terlebih saat mendengarkan himbauan dari pejabat dan bekas pejabat agar rakyat Indonesia memaafkan beliau plus diembel-embeli label “Tuhan lho, Maha Pengampun”… Duh, kita memang sakit. Memaafkan dan meminta maaf adalah masalah kelapangan hati dan keluasan nurani. Dari mana ada maaf, bila permintaan maaf itu masih terasa pongah tak merasa bersalah, malah mendulukan jasa-jasa …

Dan saya sungguh mual, membaca media yang kebanyakan memberitakan berita itu, sebagaimana mualnya saya manakala saya kebanyakan minum kopi

[kkpp, 14/01/2008, di surabaya siang yang temaram]

Standar
Bridge, Indonesiana

Sikap Politik Sang Juara

Pernahkah kita membayangkan, Taufik Hidayat, jagoan bulutangkis Indonesia saat mengangkat Piala Thomas suatu hari nanti akan mengusung spanduk: “Gantung Koruptor!” atau “Adili Suharto” atau spanduk sejenis lainnya?

Pernahkah kita membayangkan Chris John saat memenangkan sabuk juara dunia tinju malah mengibarkan spanduk: “Adili Habibie – Kembalikan Timor Timur ke Pangkuan Ibu Pertiwi”?

Pernahkah kita membayangkan warganegara Indonesia yang karena jerih keringat perjuangan di medan olahraga, mampu mengibarkan Sang Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di puncak tertinggi capaian seorang atlet: Juara Dunia: namun di saat penuh haru itu menunjukkan sikap politiknya?

Bagi kita mungkin jarang kalau dibilang malah tidak pernah. Karena yang sempat mencapai supremasi dunia di cabang olahraganya, hanyalah sedikit dari atlet Indonesia. Bahkan bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja.

Tapi rasanya perasaan itu kini tengah melanda rakyat Amerika. Bagaimana tidak, saat malam penyerahan penghargaan kepada para juara “The 2007 World Bridge Championships” di Shanghai, China, 29 September hingga 13 Oktober 2007, team AS 1, Sang Juara Venice Cup ke-14 membawa papan bertuliskan “We Did Not Vote for Bush”. Bila pengin tahu fotonya, silahkan berkunjung ke sini dan ke sana.

Kejadian ini menimbulkan pro kontra di kalangan bridge dan juga bagi masyarakat Amerika. Bagi Ms. Gail Moss Greenberg, yang bertindak sebagai NPC (non-playing-captain) team juara itu, sikap itu adalah jawaban bagi atlet dari negara lainnya. Menurutnya, team AS sering mereka menerima pertanyaan dari rekan pemain bridge negara lain tentang sikap politik AS. Lantas, mereka ingin menunjukkan bahwa tak semua warga Amerika menyetujui langkah Presidennya.

Meski sempat diancam akan diberi sangsi, mulai larangan bertanding hingga kerja sosial, kasus ini lantas berakhir tanpa hukuman. Meski demikian, seperti dikutip dari situs New York Times, bagi team yang beranggotakan Jill Levin, Irina Levitina, Jill Meyers, Hansa Narasimhan, Debbie Rosenberg, Joanna Stansby dan Gail Greenberg (npc), sebagai gantinya memberikan pernyataan pengakuan bahwa bagi tim yang mewakili negara, seharusnya upacara penganugerahan hadiah tak digunakan untuk hal lainnya.

Saya jadi teringat kasus yang menimpa Michael Jordan beberapa tahun yang silam. Saat di upacara penganugerahan penghargaan, ada konflik antara sponsor kejuaraan dan pihak yang menjadi sponsor pribadi Michael Jordan. Lantas sang Maestro memilih menggunakan produk sponsor pribadinya namun menutup logo sponsor dengan bendera negara.

Lantas adakah kejadian ini berarti bagi kita? Mudah-mudahan Juara Dunia dari Indonesia di kemudian hari terus dilahirkan. Dilahirkan dengan talenta serta kesadaran untuk memilih tempat dan waktu yang tepat bagi Sang Juara untuk mengekspresikan sikap politiknya dilakukan tanpa melukai dukungan dan doa dari segenap penggemar dan rakyat dari penjuru negeri.

[kkpp, 22/11/07]

Standar
Indonesiana, Kisah Kehidupan

Macet

Belakangan ini media massa nasional banyak mengeluhkan kondisi Jakarta yang kian macet. Kemacetan yang dulu menjadi menu harian, kini makin menumpuk sejak pembangunan busway yang mulai merambah berbagai arah.

Saya yang hanya menyambangi Jakarta beberapa kali dalam setahun, bisa membayangkan bagaimana kemacetan itu. Bayangan itu pula yang menyebabkan saya akhir-akhir ini harus berpikir ulang untuk menerima tawaran untuk kembali bekerja di sana. Meski di Surabaya pun punya potensi yang sama untuk mengalami kemacetan. Namun setidaknya titik kemacetannya bisa dihitung, berapa lama dan di mananya pun bisa dikalkulasikan. Beda banget dengan di Jakarta.

Ya saya khawatir dengan kondisi kemacetan itu. Hitunglah berapa waktu yang terbuang di jalan. Meski ada teknologi yang kian canggih, rasanya kualitas pertemuan langsung dengan keluarga pun juga ikatan silaturahmi dengan kawan-kawan, jadi berkurang karena kita terjebak kemacetan. Energi positif yang memenuhi nadi dan saraf kita, jadi lebih mudah terbakar manakala kita berada dalam antrian yang kelihatan tidak bakal berkesudahan.

Hitunglah pula berapa BBM yang kita bakar percuma di ruang bakar kendaraan roda dua serta roda empat kita tanpa dikonversikan menjadi torsi yang menggerakkan roda. Padahal di luar sana, semua ribut mengkhawatirkan harga BBM yang nyaris mencapai titik psikologis di kisaran 100 USD perbarrel.

Banyak teori dan wacana telah disampaikan oleh pakar, ahli bahkan opini dan komentar dari penikmat macet harian. Bisa jadi betul dan mungkin solusinya adalah seperti yang mereka utarakan. Tapi adakah yang bergerak untuk menyelesaikannya?

Pada titik ini, upaya pemerintah DKI menggerakkan ide busway adalah layak dan diperlukan. Daripada bengong menunggu kapan kemacetan menguap dengan sendirinya, lebih baik bergerak, bekerja melakukan apa yang bisa.

Setidaknya seperti saya. Daripada saya pindah ke Jakarta, mendapatkan fasilitas kendaraan dinas seperti yang saya nikmati sekarang, bukankah lebih baik saya tidak ke sana di saat seperti sekarang. Bila banyak orang yang berpikir seperti saya, cukuplah kendaraan di Jakarta seperti saat ini, tak perlu ada penambahan kendaraan yang justru hanya menambah padat antrian kemacetan.

Sayang, saya tak punya banyak kawan yang berpikir senada.

[kkpp, 21/11/07]

Standar